Pendidikan merupakan hak setiap anak, termasuk anak berkebutuhan khusus. Prinsip inilah yang terus diterapkan SLB C Autis Negeri Tuban dalam memberikan layanan pendidikan kepada para siswanya.
Kepala SLB C Autis Negeri Tuban, Ibu Hartini, S.Pd, menjelaskan bahwa huruf C pada nama sekolah tersebut merujuk pada hambatan intelektual. Sementara itu, sekolah juga memberikan layanan bagi siswa dengan autisme. Di Kabupaten Tuban sendiri terdapat lima sekolah luar biasa dengan karakteristik kebutuhan peserta didik yang beragam.
Saat ini, SLB C Autis Negeri Tuban memiliki 168 siswa yang terdiri dari jenjang SD, SMP, hingga SMA. Jumlah tersebut dilayani oleh sekitar 22 tenaga pendidik. Menurut Hartini, kondisi tersebut masih belum ideal karena jumlah siswa yang cukup banyak membuat rasio guru dan siswa menjadi salah satu tantangan dalam proses pembelajaran.
"Kalau kita sih 1 banding 5 itu, sudah luar biasa. Kita saat ini adalah 1 banding 12," ujar Hartini dalam Talkshow Inspirasi Damandiri di Radio DFM Jakarta.
Kondisi tersebut membuat sekolah harus menerapkan strategi pembelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing peserta didik. Salah satunya melalui Program Pembelajaran Individual atau PPI.
Melalui PPI, guru tidak memberikan perlakuan yang sama secara kaku kepada seluruh siswa. Sebaliknya, kemampuan, kebutuhan, dan potensi setiap anak menjadi dasar dalam menentukan proses pembelajaran.
Pendekatan visual dan benda konkret juga menjadi bagian penting dalam proses belajar. Bagi sebagian siswa, memahami instruksi secara verbal bukanlah hal yang mudah. Karena itu, guru perlu menggunakan cara yang lebih nyata dan mudah dipahami oleh anak.
Tantangan tersebut membutuhkan kesabaran dan konsistensi dari para tenaga pendidik. Namun, Hartini menilai setiap perkembangan kecil yang ditunjukkan siswa merupakan sesuatu yang sangat berarti.
Apresiasi juga menjadi salah satu cara yang digunakan guru untuk membangun rasa percaya diri siswa. Ketika seorang anak berhasil melakukan sesuatu yang sebelumnya sulit dilakukan, sekecil apa pun pencapaiannya, guru memberikan respons positif sebagai bentuk penghargaan.
Menurut Hartini, dukungan semacam itu dapat menumbuhkan keyakinan dalam diri anak bahwa mereka mampu melakukan sesuatu.
Selain pembelajaran di dalam kelas, SLB C Autis Negeri Tuban juga memiliki cita-cita untuk terus berkembang sebagai pusat sumber atau resource center. Sekolah telah menjalin kolaborasi dengan sekolah umum, salah satunya SMK Negeri 2 Tuban yang juga memiliki siswa berkebutuhan khusus.
Ke depan, sekolah berharap dapat semakin banyak memberikan pendampingan dan kolaborasi kepada sekolah inklusi sehingga pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus dapat semakin luas dan merata.
Bagi Hartini, pendidikan untuk semua bukan berarti seluruh anak harus mendapatkan perlakuan yang persis sama. Justru, setiap anak perlu mendapatkan fasilitas dan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhannya agar memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.

