Buku 60 Hikmah Kehidupan, Refleksi Pak Arief Hidayat Thamrin Menemukan Makna di Setiap Fase Usia

Created | By: Redaktur | 16-Sep-2026

Memasuki usia 60 tahun menjadi momentum bagi Pak Arief Hidayat Thamrin untuk melihat kembali perjalanan hidup sekaligus merenungkan bekal yang akan dibawa di masa mendatang. Refleksi tersebut kemudian dituangkan dalam buku berjudul 60 Hikmah Kehidupan, yang merangkum berbagai pesan dan nilai spiritual dari sejumlah referensi keislaman.

Pak Arief menjelaskan, buku tersebut lahir dari perenungan atas perjalanan hidupnya. Menurutnya, usia 60 tahun menjadi kesempatan untuk melihat ke belakang, memahami kekurangan diri, sekaligus mempersiapkan kehidupan ke depan.

“Refleksi itu satu, melihat ke belakang apa yang saya sudah lakukan. Kemudian menatap ke dalam hati, ke dalam jiwa apa yang menjadi kekurangan dan bekal apa,” ujar Pak Arief.

Buku tersebut tidak dimaksudkan sebagai buku yang menggurui pembacanya. Pak Arief bahkan menegaskan dirinya tidak menempatkan diri sebagai ulama. Ia menyebut buku 60 Hikmah Kehidupan sebagai rangkuman dari berbagai referensi, termasuk kutipan dari Al-Qur'an, hadis, serta karya para ulama dan tokoh tasawuf.

Di dalamnya terdapat referensi dari karya seperti Ihya Ulumuddin, Al-Hikam, hingga Futuhul Ghaib karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Setiap hikmah dilengkapi dengan sumber rujukan yang diharapkan dapat membantu pembaca memahami pesan kehidupan dari sudut pandang spiritual.

“Ini adalah renungan dan pencarian dan inspirasi untuk melihat perjalanan hidup secara pelita jiwa supaya hidup kita lebih bermakna,” katanya.

Menariknya, tujuh bab dalam buku tersebut menggambarkan fase-fase kehidupan manusia. Setiap fase tidak harus dipahami secara kaku berdasarkan usia karena perkembangan seseorang bisa berbeda-beda. Ada orang yang lebih cepat matang, sementara yang lain membutuhkan waktu lebih panjang untuk memahami pengalaman hidupnya.

Bab pertama membahas hikmah awal kehidupan, termasuk asal-usul manusia dan amanah yang dimiliki manusia selama hidup. Menurut Pak Arief, manusia memiliki tugas sebagai hamba Allah, khalifah di muka bumi, sekaligus menjadi pribadi yang memberikan manfaat bagi orang lain.

Memasuki fase berikutnya, pembahasan berlanjut pada pengenalan Islam dan cahaya keimanan. Syahadat, salat, puasa, selawat, serta tanggung jawab setelah memasuki masa akil balig menjadi bagian dari refleksi dalam fase tersebut.

Sementara itu, fase usia 20 hingga 30 tahun digambarkan sebagai masa dewasa dalam amanah kehidupan. Pada fase ini, manusia mulai berhadapan dengan pernikahan, pekerjaan, tanggung jawab, serta persoalan rezeki.

Pak Arief menyebut pernikahan sebagai “madrasah cinta”, tempat seseorang belajar memahami pasangan sekaligus memperbaiki dirinya sendiri. Sementara pekerjaan tidak hanya dipandang sebagai aktivitas untuk mendapatkan penghasilan, tetapi juga dapat menjadi bentuk pengabdian dan ibadah apabila dijalani dengan niat yang baik.

Pembahasan mengenai rezeki juga menjadi salah satu bagian yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pak Arief mengingatkan bahwa rezeki tidak hanya berbentuk uang. Kesehatan, kebahagiaan, dan kesempatan berbuat baik juga merupakan bagian dari rezeki.

“Rezeki itu diusahakan dengan hablum minallah dan hablum minanas,” ujarnya.

Memasuki usia 40-an, seseorang mulai memasuki fase pencarian dan pencerahan. Tidak sedikit orang pada fase ini mulai mempertanyakan pencapaian hidup, mencari ketenangan, dan mencoba memahami kembali tujuan kehidupannya.

Menurut Pak Arief, ketenangan tidak semata-mata diperoleh dari banyaknya harta. Hubungan spiritual dengan Allah menjadi bagian penting dalam menemukan ketenteraman hati.

Fase berikutnya adalah dinamika kehidupan. Kesulitan dan kebahagiaan sama-sama dapat menjadi ujian. Kesulitan dapat menjadi pendidikan rohani, sementara keberlimpahan juga dapat menjadi ujian yang terkadang justru lebih halus.

Karena itu, tiga hal yang ditekankan adalah syukur, sabar, dan tawakal. Syukur bukan hanya diucapkan, tetapi juga diwujudkan dalam ketaatan dan perbuatan. Sabar diperlukan ketika menghadapi kesulitan, sedangkan tawakal berarti tetap melakukan ikhtiar secara maksimal dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.

Pada fase usia 60 tahun, pembahasannya semakin mengarah kepada persiapan menghadapi kepulangan kepada Allah. Pak Arief mengajak pembaca untuk memahami takdir, menjaga kebersihan hati, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta memperbanyak amal kebaikan.

“Bekal terbaik untuk pulang adalah takwa. Takwa itu adalah satu iman yang kuat, dua amal yang ikhlas, tiga akhlak yang baik,” tuturnya.

Bab terakhir kemudian dilengkapi dengan sejumlah zikir pilihan seperti tahlil, selawat, dan istigfar. Bagi Pak Arief, zikir menjadi salah satu cara untuk menjaga hati agar tetap terisi dan tidak larut dalam kegelisahan.

Pada akhirnya, 60 Hikmah Kehidupan tidak hanya berbicara mengenai usia 60 tahun. Pesan yang ingin disampaikan justru dapat direnungkan oleh siapa saja, termasuk generasi muda. Sebab, setiap perjalanan hidup memiliki hikmah yang dapat dipelajari.

“Waktu adalah pedang sehingga itu harus kita isi dengan kebaikan menjadi manusia yang bermanfaat,” kata Pak Arief.

Melalui buku tersebut, Pak Arief berharap pembaca dapat melihat kembali perjalanan hidup masing-masing, memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia, menjaga hati, serta terus mengisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat.

RELATED ARTICLE

Musik Asli Indonesia

Gd. Granadi Lt.4 Sayap Selatan
Jl. HR. Rasuna Said Blok XI Kav. 8-9
Kuningan, Jakarta Selatan.
Office : (021) 5296.1417
Marketing : +62 816781583
Wa Studio : +62 811991034


PENCARIAN
PARTNER KAMI