Omah Sedap Kembangkan Abon Crispy hingga Siap Tembus Pasar Ekspor

Created | By: Redaktur | 17-Sep-2026

Abon selama ini identik sebagai lauk praktis pendamping nasi. Namun, di tangan Christine K. Purnama, abon dikembangkan menjadi produk yang tidak hanya cocok disantap bersama nasi, tetapi juga bisa menjadi camilan dan topping berbagai makanan.

Christine merupakan owner Omah Sedap, produsen abon dan aneka makanan olahan yang mengembangkan produk dengan karakter berbeda, salah satunya abon crispy. Usaha tersebut bermula pada masa pandemi Covid-19, ketika Christine teringat pengalaman saat masih tinggal di kos dan sering mendapatkan kiriman abon dari orang tua.

“Abon kan dibawain, jadi membawa nostalgia rasa rumah yang dibawa,” ujar Christine saat berbincang dalam program Inspirasi Damandiri di Radio DFM.

Dari nostalgia tersebut, Christine mulai mencoba membuat abon sendiri. Ia kemudian memberikan sentuhan berbeda dengan membuat abon bertekstur crispy agar memiliki keunikan dibandingkan produk abon lainnya.

Saat ini, Omah Sedap memiliki sejumlah varian, mulai dari abon ayam, abon ayam pedas, abon sapi original, abon sapi pedas, hingga abon jantung pisang wijen.

Salah satu yang cukup menarik adalah abon jantung pisang wijen. Berbeda dari abon pada umumnya, produk ini tidak menggunakan campuran daging. Bahan utamanya adalah jantung pisang yang dipadukan dengan rempah-rempah dan wijen.

Produk tersebut juga ditujukan untuk konsumen vegetarian. Christine menjelaskan, abon jantung pisang wijen dibuat tanpa daging, ayam, bawang merah, dan bawang putih.

“Kalau abon jantung pisang wijen khusus jantung pisang plus rempah-rempah saja. Jadi bisa untuk vegetarian,” jelasnya.

Sementara untuk produk abon berbahan daging, Omah Sedap menggunakan daging sebagai bahan utama yang dipadukan dengan rempah-rempah. Christine menegaskan produknya dibuat tanpa MSG dan tanpa filler berupa kacang-kacangan.

Karakter crispy menjadi salah satu keunggulan yang membuat abon Omah Sedap bisa digunakan dalam berbagai cara. Selain menjadi lauk, abon dapat ditaburkan di atas nasi hangat, bubur, sandwich, hingga mie instan. Produk tersebut juga praktis dibawa sebagai camilan ketika bepergian.

Untuk menjaga kepraktisan, abon dikemas menggunakan kemasan zip yang dapat ditutup kembali setelah dibuka. Produk dalam kemasan yang masih tersegel dapat bertahan hingga satu tahun jika disimpan dengan baik pada suhu ruang dan tidak terkena panas matahari secara langsung.

Namun setelah kemasan dibuka, konsumen disarankan segera mengkonsumsinya agar tekstur crispy tetap terjaga.

Harga produk Omah Sedap juga cukup beragam. Untuk kemasan 60 gram, abon ayam dibanderol sekitar Rp 37 ribu, abon ayam pedas Rp 39 ribu, abon sapi original Rp 50 ribu, abon sapi pedas Rp 52 ribu, dan abon jantung pisang wijen Rp 52 ribu.

Tidak hanya abon, Omah Sedap juga mengembangkan produk lainnya. Ada minuman botanikal seperti bir pletok, kunyit asam, dan beras kencur yang dibuat berdasarkan pesanan. Ada pula “Lakukis”, yaitu kue biji ketapang khas Betawi yang dibuat menggunakan tepung mocaf tanpa tepung terigu, dengan pilihan rasa mete dan wijen.

Untuk memperluas akses konsumen, produk Omah Sedap dipasarkan melalui sejumlah kanal online maupun offline. Konsumen dapat menemukannya di Marketplace Hijau dan Oren dengan nama Omah Sedap, serta beberapa lokasi penjualan offline seperti Sesa Organik di Grand Indonesia dan UMKM Corner Pertamina.

Perjalanan mengembangkan usaha tersebut tentu tidak selalu mudah. Christine mengatakan salah satu tantangan terbesar adalah memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai perbedaan produk, terutama ketika konsumen membandingkan harga dengan abon lain yang ada di pasaran.

Menurutnya, konsumen perlu mengetahui bahwa kualitas bahan, proses produksi, keamanan pangan, dan kelengkapan legalitas merupakan bagian penting dari sebuah produk makanan.

Karena itu, Omah Sedap terus berupaya melengkapi berbagai persyaratan yang dibutuhkan. Christine menyebut produk abon Omah Sedap telah memiliki izin edar BPOM, sertifikasi halal, dan HAKI. Produk tersebut juga telah mendapatkan SNI dan HACCP sebagai bagian dari persiapan memenuhi persyaratan untuk pasar ekspor.

Menariknya, Christine tidak hanya fokus mengembangkan bisnisnya sendiri. Ia juga aktif memberikan pendampingan kepada pelaku UMKM yang membutuhkan informasi mengenai keamanan pangan, termasuk penyusunan CPPOB dan proses pendaftaran legalitas.

Bagi Christine, pelaku usaha harus mau terus belajar karena perkembangan zaman membuat kebutuhan konsumen dan persaingan bisnis ikut berubah.

“Jangan menyerah. Wong saya aja yang sudah manula masih belajar terus,” katanya.

Ke depan, Omah Sedap menargetkan penguatan pasar domestik melalui pemasaran offline dan online. Setelah pasar dalam negeri semakin kuat, Christine mulai mempersiapkan langkah untuk membawa produknya ke pasar ekspor.

Langkah tersebut sekaligus diharapkan dapat membuka peluang pemberdayaan tenaga kerja dari masyarakat sekitar.

Bagi masyarakat yang baru ingin memulai usaha, Christine berpesan agar tidak perlu menunggu semuanya sempurna untuk mengambil langkah pertama. Usaha bisa dimulai dari skala kecil, tetapi harus dilakukan secara konsisten.

“Kalau menurut saya, kita mulai dari yang kecil dulu aja. Enggak apa-apa, tapi kita harus konsisten. Jadi mulai melangkah dulu,” ujarnya.

Perjalanan Omah Sedap memperlihatkan bagaimana sebuah ide sederhana yang muncul dari nostalgia masa pandemi dapat berkembang menjadi usaha dengan beragam inovasi. Dari abon crispy yang praktis untuk lauk dan camilan, Omah Sedap kini terus memperkuat produk, legalitas, pemasaran, hingga mempersiapkan diri untuk menjangkau pasar ekspor.

RELATED ARTICLE

Musik Asli Indonesia

Gd. Granadi Lt.4 Sayap Selatan
Jl. HR. Rasuna Said Blok XI Kav. 8-9
Kuningan, Jakarta Selatan.
Office : (021) 5296.1417
Marketing : +62 816781583
Wa Studio : +62 811991034


PENCARIAN
PARTNER KAMI