Universitas Indonesia Kampus Salemba menjadi lokasi peluncuran buku Laku Spiritual Pak Harto Indonesia dan Kejawen: Analisis SWOT Negara Ala Jawa karya wartawan senior Bambang Wiwoho.
Kegiatan yang dihadiri akademisi, tokoh nasional, perwakilan keluarga Presiden ke-2 RI H.M. Soeharto, mahasiswa, serta sejumlah pengurus yayasan yang didirikan Soeharto itu juga dirangkaikan dengan sarasehan ketahanan nasional. Acara tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan 105 tahun kelahiran H.M. Soeharto yang jatuh pada 8 Juni 2026.
Dalam pembukaan acara, hadirin diajak mengenang sosok Soeharto sebagai pemimpin yang lahir dari keluarga petani dan berasal dari desa di pedalaman, namun mampu menjadi salah satu tokoh penting dalam perjalanan sejarah Indonesia.
Sosoknya digambarkan sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat, tegas dalam kepemimpinan, serta memiliki pengaruh besar dalam pembangunan nasional.
Ketua panitia, Prof. Dr. Arrisetyanto Nugroho, MM, mengatakan bahwa buku tersebut tidak hanya membahas sisi spiritual Soeharto, tetapi juga mengajak masyarakat melihat hubungan antara kepemimpinan, nilai budaya, dan pembangunan bangsa dari perspektif akademis.
“Laku spiritual tidak selalu berkaitan dengan urusan klenik atau hal yang berbau mistik. Berbicara laku spiritual Pak Harto bagi Indonesia membutuhkan penelitian yang berjilid-jilid. Menjadi tugas kita sebagai insan akademik agar nilai positif kepemimpinan dapat menjadi pembelajaran bagi generasi penerus bangsa,” ujar Prof. Dr. Arrisetyanto Nugroho, MM.
Ia menjelaskan bahwa peluncuran buku ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian kegiatan peringatan 105 tahun kelahiran Soeharto. Salah satu agenda lanjutan yang akan digelar adalah pemecahan rekor MURI melalui kegiatan lukisan terpanjang yang dijadwalkan berlangsung pada 24 Juni 2026 di Universitas Trilogi.
Menurut Arrisetyanto, kajian mengenai kepemimpinan Soeharto penting dilakukan secara ilmiah agar generasi muda dapat memahami nilai-nilai yang pernah diterapkan dalam pembangunan nasional.
Ia juga menyoroti berbagai program sosial yang pernah digagas melalui yayasan-yayasan yang didirikan Soeharto dan keluarganya.
Direktur Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia, Prof. Dr. Supriatna, MT, menyampaikan bahwa banyak nilai yang masih relevan dari masa kepemimpinan Soeharto, terutama mengenai kedisiplinan, semangat kebangsaan, dan kecintaan terhadap tanah air.
“Saya terkenang dengan Pak Harto itu tentang kata ‘piye kabare’. Itu mencerminkan bahwa Pak Harto adalah salah satu tokoh yang betul-betul harus kita ikuti. Selama 32 tahun ternyata banyak sekali hal-hal yang membanggakan buat bangsa Indonesia,” kata Prof. Supriatna.
Ia menilai generasi muda perlu memahami kembali nilai-nilai kebangsaan yang pernah ditanamkan pada masa tersebut, termasuk semangat persatuan dan pengabdian kepada negara.
Sementara itu, Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas, Tri Agung Kristanto, menjelaskan alasan Kompas menerbitkan buku tersebut. Menurutnya, masyarakat dapat memetik berbagai pelajaran dari perjalanan kepemimpinan Soeharto, terlepas dari berbagai dinamika yang menyertainya.
“Dari buku ini kita belajar banyak hal. Setiap pemimpin pasti punya kelebihan dan punya kekurangan. Tetapi satu hal yang dari buku ini kemudian kita belajar adalah Pak Harto menunjukkan bahwa kekuasaan bukan segala-galanya,” ujar Tri Agung Kristanto.
Ia menambahkan bahwa keputusan Soeharto untuk mengakhiri masa jabatannya pada 1998 menunjukkan bagaimana seorang pemimpin menempatkan kepentingan bangsa dan rakyat di atas kepentingan pribadi maupun kekuasaan.
Penulis buku, Bambang Wiwoho, menjelaskan bahwa buku tersebut disusun berdasarkan pengalaman, pengamatan langsung, serta metode investigasi yang ia lakukan selama bertahun-tahun.
Menurutnya, aspek spiritual menjadi salah satu faktor yang membentuk karakter dan pola kepemimpinan Soeharto.
“Buku ini kami tulis berdasarkan investigasi reporting dan pengalaman yang saya alami. Laku spiritual Pak Harto menjadi penting karena membentuk kepribadian beliau dan mempengaruhi setiap keputusan serta kebijakan beliau,” jelas Bambang Wiwoho.
Ia mengungkapkan bahwa buku tersebut berupaya menjelaskan berbagai praktik spiritual yang dijalani Soeharto dari sudut pandang budaya Jawa. Menurut Bambang, banyak anggapan yang berkembang di masyarakat mengenai spiritualitas Soeharto yang perlu diluruskan melalui pendekatan yang lebih akademis dan berbasis data.
“Gambaran masyarakat umum yang menilai Pak Harto itu seorang mistis yang percaya pada hal-hal gaib itu tidak. Dari penelusuran yang kami lakukan, yang terlihat justru bagaimana beliau membangun kekuatan diri melalui cipta, rasa, dan karsa,” ungkapnya.
Acara peluncuran juga dihadiri Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. Bambang Wibawarta, yang mewakili Menteri Kebudayaan. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi terhadap hadirnya buku tersebut karena dapat memperkaya khazanah literatur sejarah Indonesia.
“Buku tentang laku spiritual Pak Harto Indonesia dan Kejawen ini akan melengkapi pengetahuan kita bersama terkait Presiden Soeharto. Ini penting untuk melihat kembali, meneladani, dan mengetahui pemikiran serta laku yang dilakukan oleh para pemimpin terdahulu,” kata Prof. Bambang Wibawarta.
Menurutnya, penulisan sejarah dan dokumentasi pemikiran para tokoh bangsa perlu terus dilakukan agar menjadi sumber pembelajaran bagi generasi mendatang. Ia juga mengungkapkan bahwa Kementerian Kebudayaan saat ini tengah menyelesaikan proyek penulisan sejarah nasional Indonesia yang melibatkan ratusan sejarawan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Setelah prosesi peluncuran dan penyerahan buku kepada sejumlah tokoh nasional, acara dilanjutkan dengan sarasehan ketahanan nasional yang menghadirkan akademisi dan pakar dari Universitas Indonesia. Diskusi tersebut membahas hubungan antara kepemimpinan, budaya, nilai-nilai kebangsaan, dan tantangan ketahanan nasional di tengah perubahan global yang semakin kompleks. Melalui peluncuran buku ini, penyelenggara berharap masyarakat, khususnya generasi muda, dapat memperoleh perspektif baru mengenai sosok Soeharto serta memahami pentingnya nilai kepemimpinan, kebangsaan, dan pengabdian dalam membangun Indonesia.

