Memulai bisnis kuliner tidak selalu harus diawali dengan pengalaman panjang di dunia usaha. Dari dapur rumahan pun, sebuah bisnis bisa berkembang dan memiliki pelanggan setia. Hal inilah yang dilakukan Indreswari, pemilik Dapur Indria, sebuah usaha kuliner yang menghadirkan beragam pilihan makanan, mulai dari nasi box, katering rumahan, kue basah, kembang goyang, hingga berbagai menu lauk.
Kisah perjalanan Dapur Indria menjadi cerita inspiratif bagi para pelaku UMKM yang ingin memulai usaha kuliner. Dalam program Inspirasi Damandiri di Radio DFM Jakarta, Indreswari menceritakan perjalanan usahanya yang dimulai dari berbagai pengalaman sebelum akhirnya fokus mengembangkan bisnis makanan.
Indreswari mengawali perjalanan usahanya pada 2019 ketika dirinya masih bekerja sebagai guru Bimbingan Konseling di sebuah SMA swasta. Dengan latar belakang pendidikan psikologi, ia kemudian berpikir untuk memiliki kegiatan lain di luar profesinya sebagai guru.
“Saya dulu mengawalinya itu dari tahun 2019. Karena saya pada saat itu masih bekerja sebagai seorang guru. Setelah sekian tahun menjadi guru, saya berpikir bahwa saya harus punya kegiatan lain selain mengajar,” ungkap Indreswari.
Sebelum fokus pada bisnis kuliner, Indreswari sempat membuka toko kelontong yang kemudian berkembang menjadi usaha penjualan berbagai makanan ringan. Ketika anak-anaknya masih bersekolah di sekolah dasar, ia mulai memiliki ide untuk membuat makanan yang bisa dikonsumsi oleh anak-anak sekolah.
Dari situlah usaha kuliner mulai berkembang. Ia membuat berbagai menu seperti nasi chicken katsu dan nasi bulgogi untuk kebutuhan makan siang anak-anak. Usaha tersebut kemudian berjalan selama beberapa tahun hingga akhirnya berkembang ke berbagai jenis produk kuliner lainnya.
Setelah anak-anaknya semakin besar, Indreswari mulai memperluas usahanya dengan membuat nasi box dan katering rumahan. Ia terus melakukan inovasi hingga akhirnya memiliki berbagai produk yang menjadi ciri khas Dapur Indria.
Salah satu produk yang menjadi perhatian adalah kembang goyang. Berbeda dari kembang goyang pada umumnya, produk buatan Dapur Indria tidak menggunakan tepung beras, melainkan tepung tapioka.
Hasilnya adalah kembang goyang dengan rasa gurih manis dan tekstur yang renyah.
Selain kembang goyang, Dapur Indria juga menyediakan berbagai jenis kue basah, cheese stick, nasi box, katering rumahan, hingga menu makanan berat seperti empal gentong, sop ayam kampung, dan ayam kremes.
Dari berbagai produk tersebut, empal gentong menjadi salah satu menu yang paling banyak diminati pelanggan sekaligus produk yang paling mewakili Dapur Indria. Menu ini tersedia secara rutin dan dapat dipesan pelanggan untuk berbagai kebutuhan.
Untuk empal gentong lengkap dengan lontong, kerupuk, dan sambal, pelanggan bisa mendapatkannya dengan harga sekitar Rp 30 ribu. Sementara itu, nasi box tersedia mulai dari sekitar Rp 35 ribu dengan pilihan lauk yang lengkap dan bonus minuman.
Dapur Indria juga melayani pesanan kue basah dalam jumlah tertentu. Biasanya, pemesanan dilakukan minimal sekitar 20 hingga 25 buah per jenis kue. Untuk nasi box, pemesanan minimal sekitar 15 box.
Dalam perkembangannya, Dapur Indria kini lebih banyak menggunakan sistem pemesanan secara online. Peralihan dari penjualan offline ke online justru tidak membuat pendapatan usaha menurun.
Menurut Indreswari, sistem online membuat bisnisnya lebih fleksibel dan dapat menjangkau pelanggan dari berbagai wilayah.
Salah satu pelanggan setia Dapur Indria bahkan berasal dari kalangan lanjut usia. Indreswari mengaku sudah beberapa tahun melayani pesanan makanan untuk tiga pelanggan lansia yang tinggal di wilayah Pengadegan, Jati Cempaka Bekasi, dan Pondok Kelapa. Pesanan tersebut kemudian dikirim menggunakan layanan ojek online.
Perjalanan Dapur Indria menjadi bukti bahwa sebuah usaha bisa tumbuh dari hal sederhana. Dengan berani mencoba, terus berinovasi, dan mampu membaca kebutuhan pelanggan, dapur rumahan dapat berkembang menjadi bisnis kuliner yang memiliki beragam produk dan pelanggan setia.
Bagi Indreswari, keberhasilan menjalankan bisnis kuliner juga tidak terlepas dari semangat dan konsistensi. Ia percaya bahwa setiap pelaku UMKM harus berani memulai dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi berbagai tantangan.
“Kita sebagai UMKM tetap semangat. Dengan adanya semangat, kita percaya diri dengan apa yang kita masak, bahwa orang-orang juga akan membeli,” ujarnya.
Kisah Dapur Indria menunjukkan bahwa dapur bukan hanya tempat untuk memasak. Dari sebuah dapur, seseorang juga bisa melahirkan kreativitas, membangun peluang usaha, dan menciptakan sumber penghasilan bagi keluarga.

