SUBANG — Yayasan Damandiri kembali menunjukkan komitmennya dalam pemberdayaan masyarakat melalui panen perdana Kampung Ikan Damandiri yang digelar pada Rabu, 6 April 2026 di Desa Tanjungwangi, Kecamatan Cijambe, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Program budidaya ikan nila berbasis bioflok ini menjadi salah satu langkah nyata Yayasan Damandiri dalam membuka peluang ekonomi masyarakat sekaligus mendorong ketahanan pangan di daerah.
Panen perdana ini menjadi momentum penting karena Kampung Ikan Damandiri bukan hanya sekadar tempat budidaya ikan, tetapi juga dirancang sebagai pusat pemberdayaan masyarakat. Yayasan Damandiri ingin masyarakat sekitar tidak hanya menjadi penonton, melainkan ikut terlibat langsung mulai dari proses pembangunan, pembibitan, budidaya, hingga pemasaran hasil panen.
Pengurus Yayasan Damandiri, Ibu Eno Sigit yang juga merupakan cucu Presiden RI ke-2 Soeharto, merasa bersyukur panen perdana dapat berjalan dengan baik dan diharapkan menjadi awal keberhasilan program-program pemberdayaan yang dijalankan Yayasan Damandiri.
“Ya senang ya, kita mudah-mudahan program Yayasan Damandiri dengan adanya panen perdana semuanya akan berhasil sesuai dengan keinginan dari kita,” ujar Ibu Eno.
Menurutnya, keberadaan Kampung Ikan Damandiri juga berpotensi mendukung program ketahanan pangan dan kebutuhan konsumsi masyarakat, termasuk untuk kebutuhan Makan Bergizi Gratis (MBG).
Tidak berhenti di Subang, Yayasan Damandiri juga berencana mengembangkan program serupa ke daerah lain agar manfaat pemberdayaan masyarakat semakin luas dirasakan. Salah satu wilayah yang direncanakan menjadi pengembangan berikutnya adalah Sukabumi.
“Harapan ke depannya ya kita bisa membangun di tempat-tempat lain,” ungkap Ibu Eno.
Kampung Ikan Damandiri sendiri dikelola bersama masyarakat dengan sistem bioflok yang dinilai lebih efektif dan menguntungkan. Pengelola Kampung Ikan Damandiri dari Pandawa Farm, Bapak Dian, menjelaskan bahwa saat ini terdapat 85 kolam yang terdiri dari kolam pembesaran, pembibitan, hingga pendederan.
“Dalam Kampung Ikan Damandiri ini ada 80 kolam diameter 5, kemudian 1 kolam diameter 7, dan ada 4 kolam kotak untuk pendederan atau pembenihan,” jelasnya.
Dari total kolam tersebut, sebanyak 24 kolam dijadwalkan panen selama bulan Mei secara bertahap agar produksi tetap berjalan berkesinambungan. Ikan yang dibudidayakan adalah ikan nila tilapia dengan sistem bioflok yang memiliki tingkat keberhasilan tinggi.
“Untuk diameter 5 itu kita isi sebanyak 1500 ekor. Di bioflok itu success rate-nya 90 persen bahkan tingkat kematiannya di bawah 5 persen,” kata Bapak Dian.
Dalam satu kolam bioflok, hasil panen minimal dapat mencapai 300 hingga 350 kilogram ikan nila, bahkan pihak pengelola menargetkan hasil panen hingga 400 kilogram per kolam. Menurutnya, sistem bioflok menjadi solusi budidaya yang menjanjikan karena mampu menghasilkan panen dalam waktu relatif singkat, sekitar empat bulan.
Hasil panen Kampung Ikan Damandiri nantinya akan disalurkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari rumah makan, hotel, rumah sakit, hingga program MBG. Selain itu, Yayasan Damandiri juga tengah menyiapkan pengembangan usaha berbasis kemitraan masyarakat.
“Yang terbaru karena kita ingin menstabilkan harga, nanti kita akan membuat agen-agen penjualan dan lebih hebatnya lagi tidak usah ada modal. Jadi semuanya kita drop dari mulai peralatan sampai ikannya,” terang Bapak Dian.
Program tersebut menjadi salah satu bentuk nyata Yayasan Damandiri dalam membantu masyarakat memperoleh penghasilan tanpa harus terbebani modal usaha besar. Bahkan masyarakat nantinya akan mendapat pelatihan budidaya hingga teknik penjualan.
“Tujuannya supaya program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan oleh Kampung Ikan Damandiri bisa berjalan sesuai dengan rencana dan meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar,” tambahnya.
Manfaat program Yayasan Damandiri juga sudah dirasakan langsung oleh warga sekitar. Salah satunya Abah Njang, warga setempat yang kini ikut bekerja dan mengelola pembesaran ikan nila di Kampung Ikan Damandiri.
Ia menceritakan awalnya hanya ikut membantu pembangunan kolam bioflok, namun kini sudah ikut menikmati hasil panen bersama masyarakat lainnya.
“Awalnya kerja di sini bikin-bikin kolam bioflok ini, setelah itu ya udahlah ikut kerja di sini dan sekarang udah panen,” ujar Abah Njang.
Bagi dirinya, keberadaan Kampung Ikan Damandiri sangat membantu ekonomi keluarga sekaligus membuka aktivitas produktif bagi warga sekitar.
“Cukuplah untuk keluarga. Terus Abah kan bisa sambil cari rumput buat ternak sendiri, buat kambing, buat sapi,” katanya sambil tersenyum.
Abah Njang berharap Kampung Ikan Damandiri terus berkembang agar semakin banyak masyarakat yang ikut merasakan manfaatnya.
“Harapannya mudah-mudahan ke depannya lebih bagus dan lebih banyak lagi biofloknya,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Damandiri, Bapak Sugiono, menegaskan bahwa program Kampung Ikan Damandiri memang dibangun untuk masyarakat. Menurutnya, budidaya ikan nila dengan sistem bioflok memiliki peluang besar untuk meningkatkan ekonomi warga karena lebih efektif dan menguntungkan.
“Ini baru contoh untuk masyarakat,” ujar Bapak Sugiono.
Ia mengatakan tingginya permintaan ikan nila membuktikan bahwa peluang usaha budidaya ikan masih sangat terbuka. Melalui Yayasan Damandiri, Kampung Ikan Damandiri juga dibuka sebagai tempat belajar bagi masyarakat yang ingin memulai usaha budidaya ikan bioflok. Tidak hanya belajar pembibitan, masyarakat juga diajak memahami pengolahan hasil hingga siap konsumsi.
“Jadi bukan hanya mulai dari pembibitan, tapi sampai disiapkan untuk dimasak,” jelasnya.
Yayasan Damandiri berharap Kampung Ikan Damandiri dapat menjadi pusat percontohan budidaya ikan bioflok berbasis pemberdayaan masyarakat yang nantinya bisa dikembangkan di berbagai daerah lain. Dengan melibatkan masyarakat secara langsung, Yayasan Damandiri ingin menciptakan ekosistem usaha yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga sekitar.

