Inspirasi Damandiri – Radio 103.4 DFM
Pendidikan adalah kunci utama untuk membuka masa depan yang lebih baik. Namun, realitanya masih banyak anak-anak di Indonesia yang harus berjuang keras hanya untuk tetap bisa bersekolah. Hal inilah yang menjadi fokus pembahasan dalam program Inspirasi Damandiri di Radio 103.4 DFM bersama Mbak Christin Rajagukguk, Program Manager, dan Mas Edi Wijaya, Fundraising Manager dari Yayasan GNOTA (Gerakan Nasional Orang Tua Asuh).
GNOTA merupakan sebuah lembaga non-profit yang telah berdiri sejak tahun 1996 dan berfokus membantu anak-anak dari keluarga prasejahtera agar tetap mendapatkan akses pendidikan yang layak.
“GNOTA adalah Gerakan Nasional Orang Tua Asuh yang fokus membantu anak-anak dari keluarga prasejahtera agar tidak putus sekolah,” jelas Mbak Christin.
Selama hampir 30 tahun berkiprah, GNOTA telah menjadi jembatan antara para donatur—yang disebut sebagai orang tua asuh—dengan anak-anak penerima bantuan yang disebut anak asuh.
Meski menggunakan istilah “orang tua asuh”, GNOTA bukanlah program adopsi anak.
“Kami bukan mengadopsi, tapi membantu pendidikan anak-anak di sekolah. Jadi fokusnya tetap pada dukungan pendidikan,” tambahnya.
Program bantuan yang diberikan mencakup kebutuhan sekolah seperti seragam, tas, sepatu, hingga perlengkapan belajar. Selain itu, GNOTA juga turut membantu fasilitas sekolah seperti renovasi dan penyediaan buku perpustakaan.
Salah satu program utama GNOTA adalah Program Indeks (Satu Demi Satu), di mana satu donatur membantu satu anak.
“Kami menjadi jembatan antara donatur dan anak asuh. Dana yang diberikan akan disalurkan melalui sekolah,” jelas Mas Edi.
Selain itu, ada juga program lain seperti:
- Revitalisasi perpustakaan sekolah
- Build to Give untuk sekolah disabilitas
- Garage Sale for Hope, yaitu penggalangan dana dari barang bekas layak pakai
- Friends of Hope, program volunteer untuk masyarakat yang ingin terjun langsung
GNOTA tidak hanya bekerja di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar), tetapi juga menemukan banyak tantangan di wilayah perkotaan.
Salah satu kisah datang dari daerah pesisir Bekasi, di mana akses ke sekolah harus menggunakan perahu.
“Kalau air pasang, sekolah bisa terendam. Bahkan guru dan murid harus naik perahu untuk sampai ke sekolah,” cerita Mbak Christin.
Di daerah lain seperti Bantar Gebang, banyak anak yang berhenti sekolah setelah kelas 3 SD karena harus membantu orang tua.
“Mereka sebenarnya ingin sekolah, tapi kondisi ekonomi memaksa mereka berhenti,” tambahnya.
Selama berdiri, GNOTA telah membantu lebih dari 2,3 juta anak di seluruh Indonesia.
“Hampir 60% sekolah di Indonesia sudah pernah tersentuh program GNOTA,” ungkap Mas Edi.
Setiap tahunnya, GNOTA menargetkan membantu minimal 10.000 anak, terutama untuk memastikan pendidikan dasar 9 tahun dapat terpenuhi. Penentuan anak asuh dilakukan langsung melalui sekolah.
“Sekolah yang lebih tahu kondisi siswanya, jadi kami bekerja sama dengan mereka untuk menentukan siapa yang membutuhkan,” jelas Mbak Christin.
Biasanya, anak-anak yang diprioritaskan adalah yatim piatu atau berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi sangat terbatas.
GNOTA membuka kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat untuk ikut berkontribusi, tidak hanya dalam bentuk uang.
“Kalau tidak bisa berdonasi uang, bisa juga dengan menyumbangkan barang layak pakai atau menjadi relawan,” ujar Mbak Christin.
Bagi yang ingin menjadi orang tua asuh, caranya juga cukup mudah.
“Bisa langsung melalui Instagram @yayasangenota atau website resmi kami,” tambah Mas Edi.
GNOTA berharap semakin banyak pihak yang peduli terhadap pendidikan anak Indonesia.
“Pendidikan adalah pondasi masa depan. Harapannya tidak ada lagi anak yang putus sekolah,” kata Mbak Christin.
Mas Edi juga mengajak masyarakat untuk ikut terlibat.
“Apa yang kita berikan hari ini untuk pendidikan akan berdampak besar di masa depan,” ujarnya.
Melalui program Inspirasi Damandiri, kita diingatkan bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab bersama. Dengan langkah kecil seperti berdonasi, menjadi relawan, atau sekadar menyebarkan informasi, kita sudah ikut berkontribusi dalam menciptakan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak Indonesia.

