Koperasi Maripan Cilongok menjadi salah satu contoh nyata bagaimana koperasi untuk ekonomi rakyat masih sangat relevan di era modern. Berbasis di Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, koperasi ini hadir untuk mendorong kesejahteraan masyarakat, khususnya petani.
Menurut Prof. Dr. Ma’ruf Cahyono, S.H., M.H., koperasi bukan sekadar badan usaha, tetapi merupakan pilar utama dalam sistem ekonomi kerakyatan.
“Koperasi adalah pilar ekonomi. Pemiliknya anggota, yang mengontrol anggota, dan penerima manfaatnya juga anggota,” jelasnya.
Konsep ini menegaskan bahwa koperasi berperan penting dalam menciptakan kemandirian ekonomi berbasis masyarakat.
Didirikan pada Desember 2024, Koperasi Maripan Cilongok Banyumas tergolong baru. Namun, pertumbuhannya terbilang sangat cepat.
Hingga saat ini, koperasi telah memiliki:
- Lebih dari 500 anggota
- Cabang di berbagai daerah di Jawa Tengah
- Ekspansi ke luar wilayah seperti Yogyakarta dan daerah lainnya
Pertumbuhan ini menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap koperasi sebagai solusi ekonomi rakyat.
“Kami ingin koperasi ini menjadi wadah aktivitas ekonomi masyarakat desa agar lebih terorganisir dan memiliki nilai tambah,” ujar Prof. Ma’ruf.
Berbeda dari koperasi simpan pinjam, Koperasi Maripan Cilongok merupakan koperasi produsen yang berfokus pada sektor pertanian.
Model bisnis yang dijalankan mengusung sistem dari hulu ke hilir, yaitu:
- Produksi (hulu): Budidaya pertanian oleh petani
- Pengolahan: Pasca panen untuk meningkatkan nilai jual
- Distribusi (hilir): Pemasaran hasil pertanian
Pendekatan ini membuat koperasi tidak hanya membantu produksi, tetapi juga memastikan hasil petani memiliki daya saing di pasar.
“Kami bergerak dari hulu ke hilir agar petani tidak hanya memproduksi, tapi juga mendapatkan nilai tambah,” tegasnya.
Peran koperasi dalam meningkatkan ekonomi rakyat tidak hanya terlihat dari sisi finansial, tetapi juga dari perubahan pola pikir masyarakat.
Koperasi Maripan Cilongok berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya koperasi, mendorong petani menjadi anggota aktif dan membuka akses pasar yang lebih luas. Salah satu program unggulannya adalah pembentukan warung pangan di berbagai daerah.
Hingga saat ini, di daerah Banyumas memiliki sekitar 27 warung pangan dan daerah lain seperti Cilacap, Brebes, dan Purbalingga juga mulai berkembang. Warung ini berperan dalam menjaga stabilitas harga bahan pokok sekaligus memperkuat ekonomi lokal.
Dalam menjalankan programnya, Koperasi Maripan juga menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, seperti BULOG, Bapanas, Dinas koperasi daerah dan Perbankan. Kolaborasi ini memperkuat posisi koperasi sebagai bagian dari sistem ekonomi nasional, khususnya dalam mendukung ketahanan pangan.
Meski berkembang pesat, koperasi tetap menghadapi berbagai tantangan. Beberapa kendala utama antara lain:
- Rendahnya pemahaman masyarakat tentang koperasi
- Keterbatasan sumber daya manusia (SDM)
- Adaptasi terhadap teknologi digital
- Keterbatasan modal usaha
“Kendala utama bukan hanya ekonomi, tapi juga pola pikir dan tata kelola,” ungkap Prof. Ma’ruf.
Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi koperasi agar bisa terus bersaing dengan entitas usaha lainnya. Namun generasi muda memiliki peran penting dalam mengembangkan koperasi, terutama di sektor pertanian. Prof. Ma’ruf menekankan bahwa berkoperasi membutuhkan komitmen dan semangat yang kuat.
“Berkoperasi itu harus sepenuh hati. Ini bukan tempat mencari aman, tapi tempat berjuang bersama,” katanya.
Dengan keterlibatan anak muda, koperasi diharapkan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar modern.
Koperasi Maripan Cilongok membuktikan bahwa koperasi masih menjadi solusi nyata dalam meningkatkan ekonomi rakyat, khususnya di sektor pertanian. Dengan pendekatan dari hulu ke hilir, dukungan anggota, serta kolaborasi dengan berbagai pihak, koperasi ini berhasil tumbuh cepat dalam waktu singkat. Ke depan, penguatan SDM, digitalisasi, dan tata kelola menjadi kunci agar koperasi semakin berdaya saing dan berkelanjutan.

