Talkshow Inspirasi DAMANDIRI | Fenomena Cafe: Berawal dari Skripsi, Bertahan di Tengah Pandemi hingga Jadi Venue Favorit Event

Created | By: Redaktur | 14-Apr-2026

Jakarta – Di tengah menjamurnya bisnis kafe dengan berbagai konsep, Fenomena Cafe hadir sebagai salah satu usaha yang mampu bertahan sekaligus berkembang di tengah persaingan. Berdiri sejak Juni 2019, kafe ini memiliki cerita unik karena berawal dari sebuah tugas akhir kuliah yang kemudian benar-benar diwujudkan menjadi bisnis nyata.

Owner Fenomena Cafe, Sheila Rahmanita, mengungkapkan bahwa ide membangun kafe ini muncul saat dirinya menempuh pendidikan di bidang bisnis. Saat itu, ia dihadapkan pada pilihan untuk meneliti bisnis orang lain atau membangun usaha sendiri.

“Awalnya itu untuk skripsi S1. Ada opsi mau meneliti perusahaan orang atau buka usaha sendiri, dan akhirnya aku pilih buka usaha. Alhamdulillah didukung orang tua dan mentor, jadi diseriusin,” ujarnya.

Di awal berdiri, Fenomena Cafe sempat merasakan antusiasme masyarakat yang tinggi. Namun, tidak lama kemudian pandemi COVID-19 datang dan menjadi ujian besar bagi bisnis yang baru berjalan. Pembatasan aktivitas membuat kafe tidak bisa menerima pelanggan makan di tempat.

Dalam kondisi tersebut, Shela harus berpikir kreatif agar bisnisnya tetap berjalan. Ia menghadirkan berbagai promo, termasuk layanan gratis ongkir yang diantar langsung oleh barista.

“Aku bikin promo-promo unik, salah satunya free ongkir. Bahkan yang nganter itu barista sendiri, jadi kita enggak pakai layanan ojek online. Agak maksa memang, tapi kalau enggak dicoba ya enggak jalan,” katanya.

Selain itu, Fenomena Cafe juga ikut berkontribusi membantu tenaga medis dengan menyediakan jus buah gratis setiap hari melalui donasi pelanggan.

“Kita sempat support jus buah gratis untuk tenaga medis, sekitar 100 cup per hari. Jadi kalau ada donatur, kita bantu salurkan,” tambahnya.

Meski penjualan sempat menurun selama pandemi, Sheila tidak berhenti berinovasi. Ia justru memanfaatkan momen tersebut untuk melakukan pengembangan, termasuk memperluas kafe menjadi dua lantai. Pada awalnya, Fenomena Cafe mengusung konsep sport and music yang terinspirasi dari latar belakang keluarga di bidang olahraga. Bahkan, menu yang disajikan dibuat unik dengan nama-nama seperti ayam sabuk merah dan ayam sabuk hijau.

“Karena ayahku punya usaha di bidang olahraga, jadi aku ikut konsep sport. Bahkan menu juga aku bikin tematik, kayak ayam sabuk merah, ayam sabuk hijau,” jelasnya.

Namun seiring waktu, ia melihat adanya perubahan kebutuhan pasar. Fenomena Cafe kemudian beradaptasi dengan mengubah fokus bisnis menjadi penyedia venue untuk berbagai acara.

“Sekarang aku lebih fokus ke event. Kapasitas kafe bisa sampai 165 orang, jadi bisa untuk ulang tahun, lamaran, sampai intimate wedding,” ujarnya.

Desain kafe pun disesuaikan menjadi lebih netral dengan konsep industrial agar fleksibel digunakan untuk berbagai acara. Dalam memulai bisnis, Sheila juga menekankan pentingnya efisiensi. Ia memulai usaha dari garasi rumah untuk menghindari biaya sewa tempat.

“Kalau punya lokasi di rumah yang strategis, itu bisa banget dimanfaatin. Aku dulu mulai dari garasi, jadi enggak ada beban sewa, itu sangat membantu,” katanya.

Ia juga mengungkapkan bahwa secara umum biaya membuka usaha kafe berkisar antara Rp 2,5 juta hingga Rp6 juta per meter persegi, tergantung konsep yang diinginkan. Menariknya, Sheila mengaku tidak memiliki kemampuan memasak maupun pengetahuan tentang kopi di awal merintis usaha. Untuk mengatasinya, ia memilih belajar langsung dengan bekerja di kafe orang lain.

“Aku awalnya enggak bisa masak, enggak ngerti kopi. Tapi aku kerja part-time dulu di kafe orang selama tiga bulan buat belajar sistemnya,” ungkapnya.

Dari pengalaman tersebut, ia tidak hanya mendapatkan ilmu, tetapi juga relasi yang membantu dalam membangun bisnisnya. Ia pun menekankan pentingnya memiliki mentor.

“Menurutku penting banget punya mentor, biar kita enggak nebak-nebak. Jadi kita punya arahan dari orang yang sudah berpengalaman,” katanya.

Di tengah persaingan bisnis kafe yang semakin ketat, Sheila menyadari pentingnya memiliki keunggulan yang jelas. Ia memilih fokus pada kapasitas venue dan layanan event sebagai pembeda. Selain itu, strategi pemasaran juga dilakukan melalui media sosial dan kekuatan rekomendasi pelanggan.

“Yang paling penting itu sebenarnya dari mulut ke mulut. Kalau pelanggan puas, mereka akan cerita ke orang lain. Itu jadi marketing terbaik,” jelasnya.

Fenomena Cafe juga aktif berkolaborasi dengan micro influencer yang dinilai lebih dekat dan dipercaya oleh audiens.

“Sekarang micro influencer justru lebih efektif. Bahkan banyak yang mau kerja sama barter, jadi sama-sama untung,” tambahnya.

Untuk menarik perhatian pasar, Fenomena Cafe juga rutin menghadirkan berbagai event kreatif. Salah satunya adalah acara blind date bertajuk “Finding Doi” yang berhasil menarik puluhan peserta.

“Kita pernah bikin event blind date, pesertanya sampai puluhan dan cukup banyak yang match. Itu jadi salah satu cara kita menarik pengunjung,” ujarnya.

Selain itu, Sheila juga aktif membangun jaringan melalui komunitas bisnis untuk membuka peluang kolaborasi yang lebih luas. Ke depan, Fenomena Cafe akan lebih fokus pada segmen B2B dengan menargetkan event skala besar sebagai strategi pengembangan usaha.

“Sekarang aku lagi shifting ke B2B, fokus ke event besar. Karena aku lihat itu jadi keunggulan kita dibanding kafe lain,” katanya.

Sebagai penutup, Sheila memberikan pesan bagi siapa pun yang ingin memulai usaha di bidang F&B. “Mulai aja dulu. Nggak harus nunggu sempurna. Terus jangan ragu buat kolaborasi dan belajar dari siapa saja,” tutupnya.

Fenomena Cafe menjadi bukti bahwa sebuah usaha bisa berawal dari ide sederhana dan berkembang melalui konsistensi, keberanian mencoba, serta kemampuan beradaptasi di tengah tantangan.

RELATED ARTICLE

Musik Asli Indonesia

Gd. Granadi Lt.4 Sayap Selatan
Jl. HR. Rasuna Said Blok XI Kav. 8-9
Kuningan, Jakarta Selatan.
Office : (021) 5296.1417
Marketing : +62 816781583
Wa Studio : +62 811991034


PENCARIAN
PARTNER KAMI