Dunia fashion bukan sekadar soal gaya dan tren yang terus berubah. Di balik itu, ada peran besar dalam menggerakkan roda perekonomian, mulai dari membuka lapangan pekerjaan hingga melahirkan brand lokal yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Inilah yang kemudian melahirkan istilah fashion preneur, yaitu pelaku usaha di bidang fashion yang tidak hanya kreatif dalam desain, tetapi juga piawai dalam menjalankan bisnis.
Dalam program Inspirasi Damandiri, sosok Rizka Ade hadir sebagai contoh nyata seorang fashion preneur yang sukses membangun brand-nya sejak tahun 2017. Berangkat dari hobi mix and match pakaian, Rizka melihat peluang besar di industri ini dan memutuskan untuk mengubah kebiasaan belanja menjadi bisnis yang menghasilkan.
Menurutnya, menjadi fashion preneur bukan hanya tentang menciptakan pakaian yang menarik, tetapi juga bagaimana membaca pasar, membangun strategi, hingga memastikan produk bisa diterima dan menghasilkan keuntungan. “Kita harus tahu cara mengomunikasikan produk ke target market, supaya bukan hanya bagus, tapi juga laku,” jelasnya.
Brand miliknya, Rizka Ade, fokus pada pakaian wanita karier dengan konsep modest wear yang nyaman, tidak mudah kusut, dan tetap stylish untuk berbagai aktivitas, baik formal maupun santai. Produk yang ditawarkan pun cukup beragam dengan harga mulai dari Rp200 ribuan hingga Rp900 ribuan, sehingga masih terjangkau untuk berbagai kalangan.
Lebih dari sekadar bisnis, Rizka juga menekankan pentingnya dampak sosial. Ia memberdayakan penjahit lokal serta ibu rumah tangga sebagai mitra kerja. Mereka diberikan fleksibilitas untuk bekerja dari rumah tanpa tekanan target, sehingga tetap bisa menjalankan peran keluarga sambil mendapatkan penghasilan tambahan.
“Buat saya, bisnis bukan cuma soal profit, tapi juga bagaimana kita bisa memberikan manfaat untuk orang lain,” ungkapnya.
Namun, perjalanan di industri fashion tentu tidak lepas dari tantangan. Persaingan dengan produk impor berharga murah menjadi salah satu hambatan terbesar. Untuk mengatasinya, Rizka menerapkan strategi dengan menghadirkan produk entry-level yang lebih terjangkau serta memperkuat identitas brand melalui desain yang unik dan berbeda dari pasaran.
Ke depan, ia berfokus pada penguatan brand di ranah digital, dengan target menjadikan produknya sebagai pilihan utama untuk busana kerja wanita. Alih-alih membuka toko fisik, Rizka memilih memaksimalkan potensi online yang dinilai lebih efisien dan sesuai dengan perilaku konsumen saat ini.
Di akhir sesi, Rizka juga membagikan pesan bagi siapa pun yang ingin terjun menjadi fashion preneur: konsistensi dan keberanian untuk memulai. “Jangan tunggu sempurna. Mulai saja dulu, nanti diperbaiki sambil jalan,” pesannya.
Melalui Inspirasi Damandiri, diharapkan kisah ini bisa menjadi pemantik semangat bagi masyarakat untuk berani memulai usaha, sekaligus memahami bahwa industri kreatif seperti fashion memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan menciptakan dampak sosial yang luas.

