JAKARTA — Universitas Trilogi kembali menjalankan program Kuliah Kerja Nyata atau KKN tematik sebagai bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. Tahun ini, sekitar 400 mahasiswa diterjunkan langsung ke berbagai wilayah di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, hingga Bekasi untuk membantu masyarakat melalui berbagai program sesuai bidang keilmuan masing-masing.
Hal tersebut disampaikan Kepala Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Trilogi, Dr. Ir. Wachyu Hari, S.Kom., M.M., saat hadir dalam program Inspirasi Damandiri di Radio DFM Jakarta.
Dalam perbincangan tersebut, Wachyu menjelaskan bahwa KKN memiliki perbedaan dengan PKL atau praktik kerja lapangan yang selama ini sering dianggap serupa oleh masyarakat. Menurutnya, PKL lebih berfokus pada praktik kerja di perusahaan, sementara KKN lebih mengarah pada pengabdian kepada masyarakat secara langsung.
“Kalau KKN itu fokusnya di masyarakat. Jadi mahasiswa mencoba mengimplementasikan ilmu yang sudah mereka dapatkan selama kuliah untuk membantu masyarakat, UMKM, maupun lingkungan sekitar,” ujar Wachyu.
Ia menjelaskan, program KKN di Universitas Trilogi diwajibkan bagi seluruh mahasiswa semester enam dari berbagai program studi. Hal ini dilakukan agar mahasiswa dapat menerapkan teori yang selama ini dipelajari di kampus ke kondisi nyata di lapangan.
“Biasanya mahasiswa semester lima masih kuliah penuh, lalu semester enam mulai diterjunkan. Karena di tahap itu mereka sudah punya bekal ilmu yang cukup untuk diterapkan,” katanya.
Program KKN Universitas Trilogi mengusung konsep KKN tematik berbasis pemberdayaan masyarakat. Tema yang diangkat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan kondisi sosial saat ini. Salah satu fokus utama program tahun ini adalah pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya melalui pendampingan UMKM.
Mahasiswa dari program studi informatika dan sistem informasi, misalnya, membantu pelaku UMKM membuat website hingga mengajarkan digital marketing. Sementara mahasiswa akuntansi membantu penataan laporan keuangan usaha masyarakat agar lebih rapi dan terstruktur. Tak hanya itu, mahasiswa desain juga ikut membantu dalam pembuatan kemasan produk atau branding UMKM agar lebih menarik dan memiliki nilai jual lebih tinggi.
“Jadi walaupun tempat KKN-nya sama, kontribusinya bisa berbeda-beda sesuai bidang ilmunya masing-masing. Semua saling berkolaborasi,” jelas Wachyu.
Ia mengatakan, pelaksanaan KKN tahun ini juga sedikit berbeda dibanding tahun sebelumnya. Jika sebelumnya mahasiswa ditempatkan di satu wilayah selama satu bulan penuh, kini mahasiswa disebar ke berbagai titik dalam radius 40 kilometer dari kampus Universitas Trilogi. Langkah ini dilakukan agar keberadaan Universitas Trilogi semakin dikenal masyarakat sekitar Jakarta dan wilayah penyangga lainnya.
“Kami ingin masyarakat tahu bahwa Trilogi hadir dan bisa membantu masyarakat secara langsung,” ujarnya.
Mahasiswa yang mengikuti KKN dibagi dalam kelompok berisi empat hingga enam orang. Sistem kelompok diterapkan untuk membangun kerja sama dan kolaborasi lintas jurusan. Menurut Wahyu, kolaborasi menjadi salah satu poin penting dalam pelaksanaan KKN karena persoalan masyarakat tidak bisa diselesaikan hanya dari satu sudut pandang ilmu saja.
“Misalnya ada UMKM ikan. Bukan cuma soal ikannya, tapi juga ada pemasaran, kebersihan, desain kemasan, hingga pengelolaan keuangan. Jadi semua bidang ilmu bisa terlibat,” katanya.
Selain mahasiswa, dosen juga ikut dilibatkan dalam pelaksanaan program KKN. Universitas Trilogi menyiapkan dosen pendamping lapangan atau DPL yang bertugas membantu mahasiswa mencari solusi atas persoalan yang ditemukan di masyarakat. Bahkan dalam beberapa program tertentu, dosen juga turun langsung menjadi narasumber pelatihan sesuai bidang keahlian masing-masing.
“Kalau masalahnya cukup kompleks dan membutuhkan keahlian khusus, dosen ikut membantu di lapangan,” jelasnya.
Ia menambahkan, keterlibatan dosen juga menjadi bagian dari pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat.
“Jadi ini bukan hanya mahasiswa yang belajar, tapi dosen juga ikut menjalankan pengabdian bersama mahasiswa,” katanya.
Meski demikian, pelaksanaan KKN juga memiliki berbagai tantangan. Salah satunya adalah masih adanya masyarakat yang belum terbiasa menerima kehadiran mahasiswa. Menurut Wahyu, beberapa masyarakat masih menganggap kehadiran mahasiswa dapat mengganggu aktivitas mereka.
“Challenge terbesar itu bagaimana mahasiswa bisa membangun komunikasi dengan masyarakat. Mereka harus bisa menunjukkan bahwa kehadiran mereka itu untuk membantu, bukan mengganggu,” ujarnya.
Karena itu, sebelum diterjunkan ke lapangan, mahasiswa juga dibekali pembelajaran terkait strategi komunikasi dan cara menggali persoalan masyarakat.
Tidak hanya fokus pada masalah yang sudah terjadi, mahasiswa juga didorong untuk melihat potensi masalah yang mungkin muncul di masa depan dan membantu masyarakat menyiapkan solusi sejak dini.
“Kami ingin mahasiswa bisa hadir sebagai jembatan antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan nyata masyarakat,” katanya.
Wachyu juga membuka peluang bagi masyarakat yang ingin wilayahnya menjadi lokasi program KKN Universitas Trilogi di masa mendatang. Menurutnya, masyarakat dapat mengajukan lokasi atau kebutuhan pendampingan kepada pihak kampus untuk dipertimbangkan dalam pelaksanaan KKN berikutnya.
“Kami sangat terbuka. Kalau ada masyarakat yang membutuhkan pendampingan atau bantuan dari mahasiswa, silakan hubungi Universitas Trilogi,” ujarnya.
Melalui program KKN ini, Universitas Trilogi berharap mahasiswa tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, kemampuan berkomunikasi, serta pengalaman langsung menghadapi persoalan masyarakat.
“Mahasiswa harus hadir untuk membantu masyarakat. Itu yang paling penting,” tutup Wachyu di akhir talkshow Inspirasi Damandiri.

