JAKARTA – Menulis puisi ternyata tidak harus menggunakan kata-kata yang rumit. Dari rasa sedih, bahagia, rindu, bahkan secangkir kopi di pagi hari pun bisa menjadi sebuah karya puisi yang indah. Hal inilah yang dibahas dalam program Talkshow Inspirasi Damandiri di 103.4 DFM Jakarta bersama penyair dan cerpenis, Romi Sastra.
Dalam perbincangan santai bersama host Vika, Romi Sastra membagikan pengalaman, proses kreatif, hingga tips sederhana bagi siapa saja yang ingin mulai belajar menulis puisi. Romi mengungkapkan bahwa dirinya memang lebih dulu mengenal dunia puisi sebelum akhirnya menulis cerpen. Bahkan, menurutnya, puisi sudah dekat dengan dirinya sejak kecil.
“Awalnya dari tulisan-tulisan curhat di buku diary waktu sekolah. Lama-lama saya belajar, ternyata itu bisa berkembang menjadi puisi,” ujar Romi.
Ia mulai aktif menulis puisi sejak tahun 2015. Salah satu karya pertamanya berjudul Tinta Fatamorgana, yang terinspirasi dari pengalaman kegagalan dalam hubungan dan persahabatan. Menurut Romi Sastra, puisi adalah kumpulan kata-kata yang memiliki makna mendalam dan lahir dari pikiran serta perasaan penyairnya.
“Puisi itu padat, estetik, dan penuh kiasan. Berbeda dengan tulisan jurnalistik atau novel yang lebih lugas,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa dalam dunia sastra terdapat beberapa jenis puisi, mulai dari puisi datar, puisi prismatis, hingga puisi gelap. Puisi datar menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Sedangkan puisi prismatis lebih filosofis dan penuh majas. Sementara puisi gelap memiliki makna yang sangat dalam sehingga tidak semua orang bisa langsung memahaminya.
Meski begitu, Romi menegaskan bahwa setiap puisi tetap memiliki “roh” yang membuatnya hidup.
“Puisi itu bukan cuma soal kata-kata indah, tapi bagaimana penyair bisa menghidupkan sesuatu lewat tulisannya,” katanya.
Dalam talkshow tersebut, Romi juga menekankan bahwa setiap orang sebenarnya memiliki sisi puitis dalam dirinya. Namun, untuk bisa menghasilkan puisi yang baik, seseorang perlu memperkaya kosakata dan wawasan dengan banyak membaca.
“Membaca, membaca, membaca, baru menulis. Itu kuncinya,” ujar Romi.
Ia juga menyarankan agar para penulis pemula bergabung dengan komunitas sastra untuk menambah pengalaman dan belajar langsung dari sesama penulis. Menurutnya, komunitas menjadi tempat yang tepat untuk berdiskusi, bertukar ide, hingga mendapatkan kritik dan masukan terhadap karya yang dibuat. Saat ini Romi aktif di beberapa komunitas sastra, salah satunya Jagat Sastra Milenial.
Selain aktif di komunitas, Romi mengatakan proses kreatif seorang penyair juga tidak lepas dari kepekaan dalam melihat kehidupan sehari-hari. Menurutnya, inspirasi puisi bisa datang kapan saja, bahkan saat sedang berkendara atau melihat benda-benda sederhana di sekitar.
“Semua objek bisa jadi puisi. Tembok, gelas, kopi, semuanya bisa hidup kalau penyair mampu mengolahnya,” katanya.
Namun ia juga mengakui bahwa ada momen ketika seorang penulis mengalami kebuntuan ide atau blank saat ingin menulis. Kalau sudah begitu, Romi memilih berhenti sejenak dan kembali membaca untuk memancing inspirasi baru.
“Kadang kita memang perlu diam dulu. Nanti ide itu hidup lagi dengan sendirinya,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Romi juga membacakan salah satu puisinya yang berjudul Ibrahim dan Suratnya pada Bulan. Puisi tersebut mengangkat tentang konflik Palestina dan perjuangan para syuhada. Pembacaan puisi itu mendapat respons hangat dari pendengar Radio DFM yang mengikuti talk show pagi hari itu.
Tak hanya aktif menulis, Romi Sastra juga telah menerbitkan beberapa buku kumpulan puisi, diantaranya, Tinta Fatamorgana, Tarian Angin, Alegori dan Heraldik Berwajah Seribu. Setiap buku berisi puluhan hingga lebih dari seratus puisi dengan berbagai tema dan gaya penulisan.
Bagi masyarakat yang ingin mengenal karya-karya Romi Sastra lebih dekat, buku puisinya bisa didapatkan melalui media sosial pribadinya.
Di akhir talkshow, Romi mengajak masyarakat untuk kembali mencintai karya sastra, khususnya puisi.
“Puisi itu bisa membangun karakter bangsa. Bahkan lagu-lagu nasional yang kita dengar sebenarnya adalah puisi yang dinyanyikan,” tuturnya.
Ia berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik membaca

