Dari Dokter Gigi hingga Pelaku UMKM, Indah Wahyuningsih Menemukan Jalan Baru Lewat Usaha Kuliner

Created | By: Redaktur | 26-Oct-2026

Perjalanan membangun usaha tidak selalu dimulai dari bidang yang sejak awal ditekuni seseorang. Ada kalanya pengalaman, perubahan pilihan hidup, dan keberanian mencoba hal baru membawa seseorang ke arah yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Perjalanan Indah Wahyuningsih menjadi pelaku usaha kuliner merupakan salah satu contohnya. Sebelum menekuni bisnis makanan, ia memiliki latar belakang pendidikan dokter gigi dan pernah bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Ia juga sempat menggeluti bidang kerajinan tangan dan seni sebelum akhirnya memusatkan perhatian pada usaha kuliner.

Dalam wawancara di program Inspirasi Damandiri Radio DFM, Indah menjelaskan bahwa keputusan meninggalkan pekerjaan sebelumnya menjadi bagian dari perjalanan yang menghubungkan berbagai bidang yang pernah ditekuninya.

“Memang benar saya pendidikannya adalah dokter gigi. Pada saat saya waktu itu memutuskan untuk resign dari pegawai negeri sipil itu tepatnya sebagai dokter gigi, semua ini sebenarnya ada hubungannya dengan art,” kata Indah.

Baginya, unsur seni bukan sesuatu yang terpisah dari pengalaman profesionalnya. Ia melihat adanya hubungan antara keterampilan yang membutuhkan ketelitian dalam bidang kedokteran gigi, kegiatan kerajinan, dan pekerjaan yang kini dijalankannya.

Berawal dari Kerajinan dan Seni

Sebelum terjun ke dunia kuliner, Indah sempat menekuni kerajinan decoupage sekitar 2016, ketika kegiatan tersebut sedang populer. Decoupage merupakan teknik menghias benda dengan cara menggunting dan menempelkan gambar atau bahan tertentu pada permukaan media.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu pengalaman yang mempertemukannya dengan proses kreatif. Pengalaman mengembangkan kerajinan kemudian menjadi bagian dari perjalanan Indah dalam mencari bidang usaha yang sesuai dengan minatnya.

Ia menilai bahwa unsur seni juga tetap hadir ketika dirinya beralih ke bisnis makanan.

“Jadi semuanya itu kan berawal dari di dapur ya. Masuk maksudnya tuh proses memasak gitu ya. Proses pembuatan makanan produksi. Terus semua dibuat di dapur,” ujarnya saat menjelaskan asal pemilihan nama usahanya.

Nama Di Dapur dipilih karena sederhana dan berkaitan langsung dengan tempat berlangsungnya proses pembuatan produk. Identitas tersebut kemudian digunakan untuk memperkenalkan usaha yang dikembangkannya kepada konsumen.

Setelah melalui masa awal pandemi COVID-19, Indah mulai menekuni bisnis kuliner secara lebih serius pada 2021. Pada tahap awal, usahanya tidak hanya menyediakan camilan, tetapi juga melayani kebutuhan makanan untuk berbagai keperluan.

Perjalanan tersebut menjadi proses pembelajaran bagi Indah untuk mengenali kebutuhan pasar sekaligus membangun usaha secara bertahap.

Pemasaran Menjadi Tantangan bagi Pelaku UMKM

Membangun produk merupakan satu hal, sedangkan memperkenalkannya kepada konsumen merupakan tantangan yang berbeda. Indah mengakui bahwa pemasaran menjadi salah satu persoalan yang dihadapi pelaku usaha kecil, termasuk dirinya.

“Iya, hampir mayoritas ya UMKM kecil kan gitu, semua orang mungkin bisa produksi kan gitu, tapi untuk marketingnya mungkin mereka mengalami kesulitan,” ungkapnya.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Indah berupaya mengikuti berbagai jalur pembinaan dan memperluas keterlibatannya dalam kegiatan pengembangan UMKM. Dalam wawancara, ia menyebut mengikuti pembinaan dari Jackpreneur dan PPK UKM serta kegiatan yang berkaitan dengan koperasi.

“Saya ikutin jalur yang ada aja. Saya ikut dibina oleh Jackpreneur kemudian PPK UKM. Ikut koperasi, koperasi gitu-gitu aja sih,” jelasnya.

Di sisi lain, ia memanfaatkan sejumlah saluran pemasaran untuk memperkenalkan produknya. Penjualan dilakukan melalui rekomendasi dari mulut ke mulut, WhatsApp, Instagram, dan sejumlah retailer yang mulai menerima produknya.

Indah juga menyebut bahwa usahanya telah terdaftar dalam layanan e-order pemerintah. Melalui layanan tersebut, produk makanan dapat dipesan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi kegiatan atau rapat instansi pemerintah.

Untuk kebutuhan snack box dan nasi box, misalnya, konsumen dapat menyesuaikan pesanan dengan kebutuhan dan anggaran. Dalam wawancara, Indah menyebut harga snack box berada pada kisaran Rp18.000 hingga Rp30.000, sedangkan nasi box berkisar Rp35.000 hingga Rp47.500, bergantung pada pilihan yang dipesan.

Beragam jalur tersebut menjadi bagian dari upayanya menjangkau pelanggan yang lebih luas, sekaligus membuka kesempatan agar produknya dikenal oleh konsumen di luar jaringan pembeli yang sudah ada.

Membuka Peluang Kemitraan Reseller

Selain memasarkan produk secara langsung, Indah membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin ikut menjual produknya melalui sistem reseller.

Dalam wawancara, ia menjelaskan bahwa calon reseller dapat menghubunginya untuk membicarakan kerja sama. Skema yang diterapkan menggunakan sistem pembelian putus dengan jumlah minimum pembelian 10 unit. Reseller kemudian mendapatkan harga khusus yang berbeda dari harga konsumen biasa.

“Bisa, Kak. Jadi saya juga penjualan saya melalui metode reseller,” kata Indah ketika ditanya mengenai kesempatan bagi pendengar untuk menjadi reseller.

Ia menambahkan, “Jadi untuk reseller itu pembelian minimal 10. Kemudian saya langsung diskon harga reseller.”

Skema tersebut memberi kesempatan bagi calon mitra untuk memasarkan kembali produk dengan harga pembelian yang lebih rendah daripada harga jual kepada konsumen. Namun, calon reseller tetap perlu membicarakan ketentuan pembelian dan harga secara langsung dengan pemilik usaha.

Dalam menjalankan produksinya, Indah juga dibantu sekitar lima orang pekerja. Ia tetap terlibat dalam peracikan resep dan pembuatan adonan, sedangkan para pekerja membantu sejumlah proses produksi lainnya.

“Jadi semuanya, semua resep saya yang membuat, saya yang meracik,” tuturnya.

Pembagian pekerjaan tersebut memperlihatkan bagaimana usaha yang dikelolanya melibatkan orang lain dalam kegiatan produksi, sekaligus tetap mempertahankan peran Indah dalam menjaga proses pembuatan produk.

Pesan untuk Mereka yang Ingin Memulai Usaha

Bagi Indah, pengalaman menjalankan usaha mengajarkannya bahwa memulai merupakan langkah penting yang tidak seharusnya terus ditunda karena rasa takut. Tantangan dalam berbisnis baru dapat dikenali ketika seseorang benar-benar mulai menjalankannya.

Pesan tersebut ia sampaikan kepada pendengar Radio DFM yang memiliki keinginan membangun usaha sendiri, tetapi masih ragu untuk mengambil langkah pertama.

“Yang pertama adalah jangan takut untuk memulai. Karena kalau kita belum memulai kita enggak tahu apa rintangan yang ada,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya kemauan untuk bangkit setelah mengalami kegagalan. Menurut Indah, menjalankan usaha membutuhkan ketekunan dan kesediaan untuk terus mencoba, sekaligus menjaga fokus terhadap bidang yang dipilih.

“Tidak ada kata menyerah. Terus kemudian bahwa UMKM kita harus fokus pada suatu usaha, kemudian kita jalani, kemudian berdoa,” pesannya.

Perjalanan Indah menunjukkan bahwa perubahan profesi dapat membuka kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dalam bidang lain. Pengalaman di dunia seni, keberanian mengambil keputusan, serta kemauan untuk terus belajar menjadi bagian dari proses yang membawanya menekuni usaha kuliner.

Bagi masyarakat yang ingin merintis UMKM, kisah tersebut menjadi pengingat bahwa memulai usaha bukan berarti harus langsung memiliki semuanya. Kemauan untuk mencoba, mengenali tantangan, memperbaiki strategi, dan menjalankan usaha secara konsisten dapat menjadi langkah awal untuk membangun usaha yang lebih berkelanjutan.

RELATED ARTICLE

Musik Asli Indonesia

Gd. Granadi Lt.4 Sayap Selatan
Jl. HR. Rasuna Said Blok XI Kav. 8-9
Kuningan, Jakarta Selatan.
Office : (021) 5296.1417
Marketing : +62 816781583
Wa Studio : +62 811991034


PENCARIAN
PARTNER KAMI