KARANGANYAR – Pemulihan usaha setelah pandemi COVID-19 menjadi salah satu tantangan yang dihadapi Koperasi Serba Usaha (KSU) Giribangun. Koperasi yang beroperasi di kawasan Astana Giribangun, Jawa Tengah, ini terus berupaya menjaga keberlangsungan kegiatan ekonomi anggotanya sekaligus menyiapkan langkah pengembangan agar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Ketua KSU Giribangun, Iwan Setiawan, mengungkapkan bahwa pandemi memberikan dampak besar terhadap aktivitas ekonomi di kawasan tersebut. Ketika kawasan wisata ditutup, para pedagang kehilangan kesempatan untuk memperoleh pendapatan dari pengunjung.
Situasi belum langsung pulih setelah kawasan kembali dibuka. Jumlah pengunjung yang masih terbatas membuat aktivitas perdagangan belum kembali seperti sebelum pandemi. Kondisi tersebut turut memengaruhi kemampuan para pedagang dalam memenuhi kewajiban mereka kepada koperasi.
Iwan menjelaskan bahwa pengurus berusaha memahami situasi yang dihadapi anggota dan memberikan kelonggaran ketika kondisi ekonomi mereka sedang sulit.
“Dari ditutupnya itu, kami berpikir pedagang-pedagang ini nanti mendapatkan penghasilan dari mana. Mereka mengeluh dan meminta dispensasi kepada koperasi. Mau tidak mau, kami melihat situasi pada waktu itu memang harus diberikan dispensasi,” ujar Iwan.
Layanan Pinjaman Masih Ditangguhkan
Salah satu dampak yang masih dirasakan adalah penghentian sementara layanan pinjaman sejak 2020. Iwan menjelaskan bahwa layanan simpanan tetap berjalan, tetapi penyaluran pinjaman belum diaktifkan kembali karena kondisi keuangan koperasi masih dalam proses pemulihan.
Sebelum layanan tersebut dihentikan, bunga pinjaman ditetapkan sebesar 1,5 persen. Calon peminjam harus terlebih dahulu menjadi anggota koperasi dan menandatangani surat perjanjian serta surat pertanggungjawaban yang disiapkan koperasi.
Meski layanan pinjaman belum kembali berjalan, pengurus tetap berupaya mencari peluang untuk memperkuat kegiatan ekonomi di kawasan tersebut. KSU Giribangun juga memperoleh dukungan dari Yayasan Dana Sejahtera Mandiri atau Yayasan Damandiri dalam keberlangsungan kegiatan koperasi.
Iwan berharap kondisi keuangan koperasi dapat berangsur membaik sehingga layanan pinjaman bisa kembali dijalankan.
“Kalau kondisi keuangannya sudah stabil, insyaallah bisa diadakan lagi,” katanya.
Digitalisasi Menjadi Tantangan Pengembangan UMKM
Selain pemulihan keuangan, KSU Giribangun menghadapi tantangan dalam menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi digital. Menurut Iwan, kemampuan memasarkan produk melalui saluran digital semakin penting bagi pelaku UMKM agar dapat mengikuti perubahan zaman.
Untuk menjawab tantangan tersebut, koperasi memberikan edukasi mengenai pemasaran digital kepada para pedagang dan pelaku usaha. Pendampingan juga dilakukan agar anggota tidak hanya memahami materi, tetapi memiliki kesempatan untuk mempraktikkan pengetahuan yang diperoleh.
Iwan menjelaskan bahwa edukasi tersebut perlu disampaikan dengan cara yang mudah dipahami sehingga para pelaku usaha dapat menerapkannya dalam kegiatan sehari-hari.
“Langkah strategis kami pastinya memberikan edukasi kepada para pelaku UMKM atau pedagang mengenai digital marketing yang mudah dipahami oleh mereka. Kemudian kami juga akan melakukan pendampingan, membantu anggota mempraktikkan ilmunya secara langsung,” jelasnya.
Melalui upaya tersebut, koperasi berharap para anggota dapat meningkatkan kemampuan dalam memasarkan produk dan mengembangkan usaha. Pendampingan menjadi bagian penting agar pengetahuan yang diberikan tidak berhenti pada teori, tetapi bisa dimanfaatkan secara nyata.
Menjaga Tata Kelola dan Kebersamaan Anggota
Dalam menjalankan organisasi, KSU Giribangun tetap menyampaikan sisa hasil usaha (SHU) kepada anggota setiap tahun sesuai dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga yang telah disepakati. Penyampaian SHU menjadi bagian dari mekanisme pertanggungjawaban pengurus kepada anggota.
Koperasi juga terlibat dalam kegiatan sosial dan kemasyarakatan di lingkungan Astana Giribangun. Pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2026, pengurus, karyawan, pedagang, pelaku UMKM, dan berbagai elemen masyarakat mengikuti upacara bendera dengan jumlah peserta sekitar 300–400 orang.
Partisipasi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas koperasi tidak hanya berkaitan dengan kegiatan ekonomi, tetapi juga mendukung kebersamaan masyarakat di lingkungan tempatnya beroperasi.
Pesan Iwan Setiawan untuk Masyarakat
Iwan mengingatkan masyarakat agar tidak ragu memanfaatkan koperasi sebagai wadah untuk memperkuat ekonomi bersama. Namun, ia juga menekankan pentingnya kehati-hatian dalam memilih koperasi agar masyarakat tidak terjebak pada lembaga yang merugikan.
Menurutnya, masyarakat perlu memastikan bahwa koperasi yang dipilih memiliki legalitas, tujuan yang jelas, serta pengelolaan yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Koperasi adalah salah satu sumber kekuatan untuk kita. Jadi, apa pun itu koperasinya, jangan ragu. Cuma kita juga harus memilih koperasi yang benar-benar layak untuk dipilih,” pesan Iwan.
Ia menambahkan bahwa masyarakat dapat memeriksa perizinan dari pemerintah dan kepemilikan NPWP sebagai bagian dari pertimbangan sebelum bergabung. Kejelasan visi dan misi serta transparansi dalam pelaksanaan program juga penting untuk diperhatikan.
“Yang pasti ada izin dari pemerintah, punya NPWP, dan punya visi misi yang jelas,” ujarnya.
Bagi KSU Giribangun, menjaga keberlangsungan koperasi membutuhkan upaya berkelanjutan, mulai dari pemulihan kondisi keuangan hingga peningkatan kemampuan anggota dalam menghadapi perkembangan teknologi. Dengan pengelolaan yang bertanggung jawab dan keterlibatan anggota, koperasi diharapkan tetap dapat menjalankan perannya sebagai wadah ekonomi bersama.

