JAKARTA – Membangun usaha tidak hanya membutuhkan ide yang menarik, tetapi juga ketekunan untuk menghadapi berbagai tantangan. Hal inilah yang dijalani Indriani Nurharti, pemilik Mamimu Noodle, dalam mengembangkan bisnis mie warna-warni yang dirintis sejak 2018.
Dalam program talkshow Inspirasi Damandiri di Radio DFM 103.4 Jakarta, Indriani berbagi cerita mengenai perjalanan usahanya, mulai dari modal awal, proses memperkenalkan produk kepada konsumen, hingga keputusan untuk mengubah strategi pemasaran demi mempertahankan bisnis.
Indriani mengawali usahanya dengan modal sekitar Rp2 juta pada 2018. Dana tersebut digunakan untuk membeli mesin pembuat mie, bahan baku, serta kebutuhan awal lainnya. Pada masa itu, produknya masih berupa mie original dan dipasarkan dengan nama Midend.
Mamimu Noodle kemudian melakukan rebranding pada 2023. Nama baru tersebut merupakan singkatan dari *Macam-Macam Mie Baik untukmu* dan dipilih agar lebih mudah diingat sekaligus mencerminkan identitas bisnisnya.
Rebranding itu menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan usaha Indriani. Sebelumnya, ia mengikuti kompetisi bisnis yang diselenggarakan oleh salah satu BUMN dan berhasil masuk dalam 30 peserta terbaik se-Indonesia. Salah satu bentuk apresiasi yang diterimanya adalah kesempatan untuk melakukan rebranding.
Dalam mengembangkan usaha, Indriani juga belajar bahwa produk yang menarik belum tentu langsung menghasilkan keuntungan. Ia pernah memiliki dua mitra usaha, masing-masing di Bali dan Jatiasih, sebelum pandemi COVID-19 memengaruhi keberlangsungan bisnisnya.
Setelah melewati masa tersebut, Indriani kembali membangun usahanya secara bertahap. Pada 2025, Mamimu Noodle sempat membuka usaha di Blok M Square, Jakarta. Namun, setelah berjalan sekitar enam hingga tujuh bulan, ia memutuskan untuk kembali berfokus pada penjualan melalui bazar.
Keputusan itu diambil setelah mempertimbangkan biaya operasional dan persaingan di lokasi tersebut. Menurut Indriani, tempat yang ramai pengunjung tidak selalu menjamin keuntungan karena pelaku usaha tetap harus menanggung biaya sewa dan kebutuhan operasional lainnya.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bahwa strategi pemasaran perlu disesuaikan dengan kondisi bisnis. Saat ini, Mamimu Noodle lebih banyak mengikuti bazar, sekaligus menjalankan rumah produksi untuk memenuhi pesanan mie dari pelaku usaha kuliner.
Selain menjual mie siap saji, Mamimu Noodle juga menyediakan mie mentah dalam berbagai pilihan warna untuk kebutuhan usaha lain. Dengan model ini, pelanggan dapat menggunakan produk mie tersebut sebagai bahan baku dan memasarkannya dengan merek mereka sendiri.
Untuk mie siap saji, harga yang ditawarkan berkisar Rp22.000 hingga Rp30.000 per porsi, bergantung pada pilihan menu dan topping. Sementara itu, paket mie untuk dimasak sendiri ditawarkan sekitar Rp40.000 untuk dua porsi. Produk mie mentah untuk kebutuhan usaha tersedia dalam kisaran harga Rp35.000 hingga Rp50.000, bergantung pada varian dan bahan pewarna alami yang digunakan.
Indriani mengungkapkan, omzet usahanya saat ini berada di kisaran Rp 15 juta hingga Rp 25 juta, meskipun jumlah tersebut masih merupakan omzet kotor yang digunakan kembali untuk memenuhi kebutuhan bahan baku dan operasional.
Bagi Indriani, mempertahankan usaha membutuhkan pemahaman terhadap pasar sekaligus kemampuan menemukan keunikan produk. Di tengah banyaknya pilihan kuliner, pelaku usaha perlu memiliki alasan yang membuat konsumen tertarik mencoba produk mereka.
Ia menyarankan calon wirausahawan untuk tidak terlalu lama menunda langkah pertama. Namun, setelah memulai, pelaku usaha juga perlu memikirkan cara mempertahankan bisnis agar dapat terus berjalan.
“Cari alasan orang harus mencoba produk kita. Cari unique selling point dari produk kita,” pesan Indriani.
Prinsip tersebut diterapkan Mamimu Noodle melalui mie warna-warni dengan pewarna alami, pilihan produk yang beragam, serta peluang kerja sama dengan pelaku usaha kuliner lainnya.
Perjalanan Mamimu Noodle menunjukkan bahwa membangun UMKM merupakan proses yang membutuhkan keberanian untuk memulai, kesediaan belajar dari pengalaman, dan kemampuan beradaptasi ketika menghadapi perubahan. Dengan terus mengevaluasi strategi dan menjaga ciri khas produk, pelaku usaha dapat menemukan jalan untuk bertahan sekaligus membuka peluang pertumbuhan baru.

