BNN Ungkap Anak SMP Terjerat Narkoba, Ternyata Perhatian Orang Tua Punya Peran Besar

Created | By: Redaktur | 20-Oct-2026

JAKARTA – Penyalahgunaan narkoba di kalangan anak dan remaja menjadi perhatian serius Badan Narkotika Nasional (BNN). Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola pergaulan, keluarga memiliki peran penting dalam melindungi anak agar tidak terjerumus dalam penyalahgunaan narkotika.

Hal ini menjadi pembahasan dalam Spesial Talkshow Radio DFM 103,4 FM Jakarta pada Kamis (15/10/2026). Dipandu oleh Hendra, talkshow bertema “Keluarga Kuat, Anak Hebat, Narkoba Minggat” tersebut menghadirkan Kepala BNN Kota Jakarta Utara, Kombes Irwan Andy Purnamawan, S.I.K., M.H.

Dalam perbincangan tersebut, Irwan menjelaskan bahwa upaya pemberantasan narkoba perlu dimulai dari lingkungan terdekat anak, yaitu keluarga. Hal ini sejalan dengan pentingnya melindungi generasi muda demi mewujudkan generasi emas Indonesia pada 2045.

Menurut Irwan, anak dan remaja berada dalam fase pencarian jati diri sehingga relatif mudah terpengaruh oleh lingkungan. Kondisi ini semakin menantang ketika komunikasi antara anak dan orang tua tidak berjalan dengan baik.

Perkembangan media sosial dan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga mengubah cara anak mencari informasi dan menyampaikan persoalan yang mereka hadapi. Ketika tidak menemukan tempat bercerita di rumah, sebagian anak bisa beralih ke media digital untuk mencari jawaban.

Karena itu, orang tua perlu hadir sebagai tempat yang aman bagi anak untuk menyampaikan masalah dan mendapatkan arahan yang tepat.

BNN Jakarta Utara Temukan Puluhan Pelajar Terpapar Narkoba

Kerentanan anak terhadap penyalahgunaan narkoba bukan sekadar kekhawatiran. Dalam talkshow tersebut, Irwan mengungkapkan hasil deteksi dini melalui tes urine yang dilakukan BNN Kota Jakarta Utara di lingkungan sekolah, khususnya tingkat SMP dan SMA.

Berdasarkan data yang disampaikan Irwan, pada 2025 terdapat sekitar 24 anak yang pernah terpapar atau menjadi korban penyalahgunaan narkotika. Sementara itu, pada 2026, BNN Kota Jakarta Utara telah menemukan sekitar delapan anak di tingkat SMP dan SMA yang mengalami persoalan serupa.

“Di tahun 2025 ada kurang lebih 24 orang anak pernah terpapar ataupun menjadi korban penyalahgunaan narkotika. Di 2026 ini yang baru kemarin kami mendapatkan di tingkat SMP dan SMA sekitar 8 orang,” ungkap Irwan.

Ia menilai temuan tersebut memerlukan perhatian serius dari orang tua maupun pihak sekolah. Pencegahan tidak cukup dilakukan dengan memberikan larangan, tetapi juga perlu dibarengi pemahaman mengenai bahaya narkotika dan pendampingan yang sesuai dengan usia anak.

Untuk memperkuat upaya tersebut, BNN mengembangkan edukasi antinarkotika di lingkungan pendidikan melalui Integrasi Kurikulum Antinarkotika yang dikoordinasikan bersama Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta.

Selain itu, BNN turut memberikan penyuluhan pada kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Materinya disesuaikan dengan jenjang pendidikan, mulai dari pengenalan tentang pentingnya berhati-hati menerima pemberian orang asing hingga pemahaman mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba bagi pelajar dan mahasiswa.

Vape Juga Perlu Diwaspadai, Terutama di Kalangan Anak Muda

Setelah membahas temuan di kalangan pelajar, perbincangan berlanjut pada perkembangan modus penyalahgunaan narkotika. Salah satu hal yang menjadi perhatian Irwan adalah kemungkinan penyalahgunaan rokok elektrik atau vape sebagai sarana penggunaan zat narkotika tertentu.

Menurutnya, tren penggunaan vape di kalangan anak muda perlu dicermati. Produk dengan aroma buah-buahan dapat membuat orang tua tidak mudah mengenali penggunaannya, sementara cairan atau kartrid yang dapat diisi ulang berpotensi disalahgunakan.

Irwan menjelaskan bahwa BNN mendorong penguatan regulasi terkait rokok elektrik untuk mencegah penyalahgunaan tersebut.

Karena itu, orang tua perlu memahami kebiasaan anak, termasuk produk yang digunakan dan lingkungan pergaulannya. Namun, kewaspadaan tetap perlu disertai komunikasi yang baik agar anak tidak merasa hanya diawasi, melainkan juga dipahami dan dibimbing.

Perubahan Perilaku Anak Jangan Langsung Dianggap Sepele

Dalam sesi interaksi dengan pendengar, Hendra membacakan pertanyaan dari seorang pendengar yang ingin mengetahui ciri-ciri orang yang menggunakan narkoba. Pendengar tersebut juga mengkhawatirkan pergaulan anaknya.

Menanggapi pertanyaan itu, Irwan menjelaskan bahwa perubahan perilaku dapat menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Misalnya, anak yang sebelumnya ceria dan terbuka tiba-tiba lebih sering menyendiri atau menjauh dari keluarga.

Meski demikian, perubahan perilaku saja tidak dapat memastikan seseorang menggunakan narkoba. Orang tua perlu mencari tahu penyebabnya melalui komunikasi dan, jika diperlukan, meminta bantuan tenaga profesional.

Irwan juga menyampaikan bahwa penyalahgunaan narkotika dapat memengaruhi kondisi seseorang, termasuk kebiasaan makan, kebersihan diri, dan kepedulian terhadap aktivitas sehari-hari.

Menurutnya, orang tua sebaiknya tidak langsung memberikan cap negatif kepada anak ketika menemukan perubahan yang mencurigakan. Langkah pertama adalah mengajak anak berbicara untuk mengetahui apakah ada masalah yang sedang dihadapinya.

Anak Bisa Mencari Pelarian Ketika Tidak Punya Tempat Bercerita

Pembahasan kemudian kembali pada peran keluarga. Berdasarkan asesmen dan wawancara yang dilakukan terhadap anak-anak korban penyalahgunaan narkoba, Irwan menyampaikan bahwa keinginan untuk menunjukkan diri dan mendapatkan perhatian keluarga dapat menjadi salah satu persoalan yang mereka ungkapkan.

Ia mengingatkan bahwa tanggung jawab mendidik anak tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada sekolah. Anak juga membutuhkan pendampingan di rumah, terutama ketika menghadapi persoalan akademik, konflik dengan teman, perundungan, atau masalah lainnya.

Irwan menggambarkan situasi ketika anak ingin bercerita kepada orang tua, tetapi justru diminta menunggu karena orang tua sedang sibuk atau kelelahan. Jika hal ini terus terjadi, anak bisa merasa tidak memiliki tempat untuk menyampaikan masalahnya.

“Padahal pelajaran itu bukan hanya di sekolah saja. Di keluarga adalah juga yang utama,” ujarnya.

Ketika tidak mendapatkan ruang untuk bercerita, anak mungkin mencari pelarian melalui media sosial atau AI. Dalam kondisi tertentu, mereka juga berisiko menerima informasi yang keliru atau tawaran produk yang diklaim dapat meningkatkan stamina maupun konsentrasi, tetapi ternyata mengandung zat berbahaya.

Irwan menekankan bahwa komunikasi yang terbuka dapat membantu orang tua memahami persoalan anak lebih awal. Anak juga perlu didukung untuk mengembangkan minat dan kegiatan positif, seperti belajar, berolahraga, atau mengikuti pelatihan sesuai kemampuan keluarga.

Dengan demikian, anak memiliki tujuan yang ingin dicapai dan lebih siap menolak ajakan yang berisiko.

Jika Anak Terlanjur Menggunakan Narkoba, Jangan Langsung Dimarahi

Lantas, bagaimana jika anak sudah terlanjur menjadi korban penyalahgunaan narkoba?

Irwan menegaskan bahwa orang tua tidak seharusnya langsung menghakimi atau memberikan hukuman tanpa memahami akar persoalannya. Ia menceritakan pengalamannya saat menangani seorang anak SMP yang orang tuanya sempat meminta agar anak tersebut dihukum.

Setelah ditelusuri lebih lanjut, anak itu mengungkapkan bahwa dirinya ingin mendapatkan perhatian dari orang tua.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa penanganan anak yang terlibat penyalahgunaan narkoba perlu dilakukan dengan pendekatan yang tepat. Orang tua perlu membangun kembali komunikasi, mengevaluasi pola pengasuhan, dan berani meminta maaf jika selama ini kurang memberikan perhatian.

“Ini anak kita korban, bukan dia keinginan sendiri untuk merusak dirinya sendiri. Kita harus tanyakan apa sih permasalahan dia,” tegas Irwan.

Ia juga mengingatkan pentingnya pengasuhan atau parenting bagi orang tua. Pendidikan anak bukan hanya tanggung jawab guru, tetapi juga dimulai dari rumah melalui kebiasaan sehari-hari, pendampingan, dan keteladanan.

BNN Jelaskan Tahapan Rehabilitasi bagi Korban Penyalahgunaan Narkoba

Dalam sesi berikutnya, seorang pendengar bernama Mama Dea menanyakan bentuk rehabilitasi bagi pengguna narkoba, termasuk durasi penanganan dan layanan yang tersedia.

Irwan menjelaskan bahwa BNN melakukan asesmen untuk mengetahui kondisi seseorang dan menentukan bentuk rehabilitasi yang sesuai. Penanganan disesuaikan dengan tingkat penggunaan dan kebutuhan masing-masing individu.

Dalam penjelasannya, ia menyebutkan beberapa bentuk penanganan, antara lain:

  • Kategori ringan: konseling hingga delapan kali pertemuan, yang dapat dilakukan secara langsung maupun daring.
  • Kategori sedang: umumnya menjalani rawat inap selama satu hingga tiga bulan.
  • Kategori berat: dapat menjalani rawat inap selama tiga hingga enam bulan.

Durasi tersebut merupakan gambaran yang disampaikan dalam talkshow dan dapat berbeda sesuai hasil asesmen serta kebutuhan pasien.

Irwan juga menjelaskan bahwa rehabilitasi perlu didukung oleh keinginan individu untuk pulih dan lingkungan yang sehat. Setelah menjalani rehabilitasi, seseorang perlu mendapat dukungan agar dapat membangun pergaulan baru yang positif dan menjauhi lingkungan yang berisiko.

Ia menegaskan bahwa keluarga tidak perlu merasa malu atau justru menjauhi anggota keluarga yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba. Dukungan untuk mencari pertolongan merupakan bagian penting dari proses pemulihan.

Bagi keluarga yang membutuhkan bantuan, Irwan menyebutkan call center BNN di nomor 184. Masyarakat juga dapat mendatangi kantor BNN kabupaten/kota terdekat untuk berkonsultasi mengenai penanganan dan rehabilitasi. Menurut penjelasannya, layanan konsultasi di kantor BNN tersebut tidak dipungut biaya.

Pesan Kepala BNN untuk Orang Tua dan Generasi Muda

Menjelang akhir talkshow, Irwan menyampaikan pesan kepada orang tua agar lebih memperhatikan kebutuhan anak, membangun komunikasi yang terbuka, dan menanamkan nilai-nilai positif sejak dini.

Sementara itu, kepada generasi muda, ia mengajak mereka untuk percaya diri, terus belajar, mengembangkan kemampuan, menghormati orang tua dan guru, serta tidak melupakan doa.

“Keberhasilan itu bukan dari orang lain, bukan dari siapa-siapa, bukan dari sesuatu ataupun barang apa pun, tapi keberhasilan kita adalah dari diri kita sendiri yang menginginkan kemajuan untuk kita ke depannya,” pesannya.

Melalui tema “Keluarga Kuat, Anak Hebat, Narkoba Minggat”, talkshow Radio DFM bersama BNN Kota Jakarta Utara mengingatkan bahwa pencegahan penyalahgunaan narkoba membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Edukasi di sekolah, kewaspadaan terhadap lingkungan pergaulan, akses rehabilitasi, dan dukungan keluarga perlu berjalan beriringan.

Sebab, keluarga bukan hanya tempat anak tumbuh, tetapi juga tempat mereka belajar menghadapi masalah, membangun kepercayaan diri, dan menemukan dukungan ketika menghadapi situasi sulit. Dari komunikasi yang terjaga dan perhatian yang konsisten, anak diharapkan memiliki bekal lebih kuat untuk menjauhi narkoba dan meraih masa depan yang lebih baik.

RELATED ARTICLE

Musik Asli Indonesia

Gd. Granadi Lt.4 Sayap Selatan
Jl. HR. Rasuna Said Blok XI Kav. 8-9
Kuningan, Jakarta Selatan.
Office : (021) 5296.1417
Marketing : +62 816781583
Wa Studio : +62 811991034


PENCARIAN
PARTNER KAMI