YOGYAKARTA – Museum Monumen Jogja Kembali atau yang lebih dikenal dengan Monjali menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang penting di Daerah Istimewa Yogyakarta. Museum ini tidak hanya menyimpan berbagai koleksi sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga menjadi pengingat peristiwa penting ketika Yogyakarta pernah menjadi ibu kota Republik Indonesia.
Manajer Operasional Monjali, Nanang Dwinanto, menjelaskan bahwa pembangunan Monjali dilatarbelakangi oleh peristiwa besar dalam sejarah perjuangan bangsa, khususnya terkait Serangan Umum 1 Maret 1949.
“Latar belakang dibangunnya Monjali karena ada peristiwa yang sangat penting di Yogyakarta, yaitu ketika Yogyakarta pernah menjadi ibu kota Republik Indonesia. Peristiwa itu perlu diabadikan agar generasi berikutnya tetap mengingat sejarah perjuangan bangsa,” ujar Nanang.
Menurutnya, setelah Agresi Militer Belanda, ibu kota yang sebelumnya berada di Jakarta dipindahkan ke Yogyakarta demi keamanan. Perjuangan mempertahankan kedaulatan kemudian mencapai momentum penting melalui Serangan Umum 1 Maret 1949 yang berhasil menunjukkan kepada dunia bahwa Republik Indonesia masih ada.
“Dengan adanya Serangan Umum 1 Maret 1949, kemudian lahir Perjanjian Roem-Roijen yang membuat Yogyakarta kembali berfungsi sebagai ibu kota Republik Indonesia,” jelasnya.
Gagasan pembangunan Monjali sendiri pertama kali disampaikan oleh Kolonel Sugiarto, yang saat itu menjabat sebagai Wali Kota Yogyakarta. Ide tersebut kemudian disetujui oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
Pembangunan museum dimulai pada 29 Juni 1985 dan diresmikan pada 6 Juli 1989 oleh Presiden ke-2 Republik Indonesia, H.M. Soeharto.
Bangunan Monjali memiliki arsitektur yang unik, berbentuk kerucut menyerupai tumpeng. Bentuk ini bukan tanpa makna. Nanang menjelaskan bahwa desain bangunan tersebut dipilih melalui sayembara arsitektur yang dimenangkan oleh Dr. Randes Sonaria dari Institut Teknologi Bandung (ITB).
“Bentuk kerucut itu memiliki filosofi. Pertama melambangkan tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas kemerdekaan. Kedua melambangkan gunung yang menggambarkan kekuatan bangsa Indonesia. Dan yang ketiga menyerupai gunungan dalam pewayangan yang menandakan pergantian zaman dari masa penjajahan menuju kemerdekaan,” kata Nanang.
Monjali terdiri dari tiga lantai yang masing-masing memiliki fungsi berbeda. Lantai pertama berisi ruang museum, perpustakaan, serta ruang serbaguna yang sering digunakan untuk berbagai kegiatan, termasuk pemutaran film sejarah. Lantai kedua menampilkan diorama dan relief yang menggambarkan berbagai peristiwa perjuangan bangsa. Sementara di lantai ketiga terdapat Ruang Garbagraha, sebuah ruang khusus untuk mendoakan para pahlawan yang telah gugur.
Selain sebagai tempat wisata sejarah, Monjali juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda. Nanang mengatakan bahwa sebagian besar pengunjung Monjali merupakan pelajar dari berbagai daerah.
“Hampir 70 persen pengunjung Monjali adalah pelajar. Tujuan utamanya memang untuk mewariskan nilai-nilai perjuangan kepada generasi muda agar mereka memahami sejarah bangsa,” ujarnya.
Para pengunjung juga dapat menonton film pendek mengenai Serangan Umum 1 Maret 1949 yang diputar di dalam museum.
“Durasi filmnya sekitar 10 menit, tapi sangat menyentuh. Banyak pengunjung yang merasa terharu ketika menonton karena di situ tergambar bagaimana perjuangan para pahlawan mempertahankan kemerdekaan,” ungkap Nanang.
Tak hanya menghadirkan edukasi sejarah, Monjali juga menyediakan berbagai fasilitas yang membuat kunjungan menjadi lebih menarik. Di area luar museum, pengunjung dapat menikmati taman luas, permainan anak, hingga berbagai spot foto.
“Monjali itu tidak hanya tempat belajar sejarah, tapi juga tempat rekreasi keluarga. Pengunjung bisa foto dengan latar perjuangan, bahkan bisa menyewa kostum pejuang untuk berfoto,” jelasnya.
Hal unik lainnya adalah adanya fasilitas karaoke gratis bagi pengunjung. Menurut Nanang, hal ini sengaja disediakan agar museum menjadi tempat yang menyenangkan.
“Museum itu bukan hanya tempat edukasi, tapi juga tempat yang menyenangkan. Jadi kami menyediakan berbagai fasilitas hiburan agar pengunjung, terutama anak-anak, tidak merasa bosan,” katanya.
Monjali sendiri berlokasi di Jalan Pajajaran, Jongkang, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta dengan luas area sekitar 5 hektare. Museum ini buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB, kecuali hari Senin.
Harga tiket masuknya pun cukup terjangkau, yaitu Rp15.000 per orang. Untuk rombongan pelajar dan anak-anak juga tersedia potongan harga.
Nanang berharap masyarakat, khususnya generasi muda, tetap memiliki minat untuk mengunjungi museum di tengah perkembangan teknologi dan era digital saat ini.
“Sejarah itu sangat penting. Ada sebuah teori yang mengatakan bahwa untuk menghancurkan suatu bangsa, hilangkan sejarahnya, hilangkan bukti-bukti sejarahnya, dan putuskan hubungan dengan leluhurnya. Dengan mengunjungi museum, kita justru menjaga agar sejarah itu tetap hidup,” tuturnya.
Ia pun mengajak masyarakat yang berkunjung ke Yogyakarta agar tidak melewatkan kesempatan untuk datang ke Monjali.
“Kalau ke Jogja, jangan lupa mampir ke Monjali. Di sini kita bisa belajar sejarah, mengenal perjuangan para pahlawan, sekaligus menikmati wisata edukasi bersama keluarga,” pungkas Nanang.

