Di era digital seperti sekarang, penggunaan earphone sudah menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari. Mulai dari meeting online, menonton film, mendengarkan musik, hingga menelepon dalam waktu lama — semuanya sering dilakukan dengan bantuan earphone. Namun, pernahkah kita berpikir apakah penggunaan earphone yang terlalu sering dan terlalu lama itu aman bagi kesehatan telinga?
Dalam Talkshow Inspirasi Damandiri di Radio DFM Jakarta, dr. Diar Rianti, BMedSc(Hons), Sp.THT-BKL, dokter spesialis Telinga Hidung Tenggorokan Bedah Kepala Leher dari Rumah Sakit Jakarta, membahas secara lengkap bahaya penggunaan earphone yang berlebihan.
Gangguan Pendengaran Akibat Bising
Menurut dr. Diar, penggunaan earphone dengan volume tinggi dan durasi lama dapat menyebabkan gangguan pendengaran akibat bising atau noise induced hearing loss.
“Kalau kita mendengarkan dengan volume yang cukup keras dan juga durasinya lama, itu dapat mengakibatkan gangguan pendengaran akibat bising,” jelas dr. Diar.
Gangguan ini bisa ditandai dengan:
- Telinga berdenging (tinnitus)
- Rasa tidak nyaman di telinga
- Pendengaran terasa menurun
- Bahkan dalam jangka panjang bisa menjadi permanen
Yang perlu diwaspadai, gangguan pendengaran akibat kerusakan saraf ini bersifat irreversibel atau tidak dapat disembuhkan.
“Yang mengkhawatirkan dari gangguan pendengaran akibat penggunaan earphone berlebihan ini, gangguannya irreversibel atau tidak bisa disembuhkan,” tegas dr. Diar.
Artinya, jika sel rambut di dalam rumah siput (koklea) sudah rusak akibat paparan suara keras terus-menerus, hingga saat ini belum ada terapi yang bisa mengembalikan fungsinya seperti semula.
Kenapa Earphone Bisa Berbahaya?
Earphone, terutama jenis in-ear yang dimasukkan ke dalam liang telinga, posisinya sangat dekat dengan gendang telinga. Suara yang dihasilkan langsung menghantam gendang telinga dan diteruskan ke rumah siput.
“Suara yang masuk dari earphone itu berjalan sangat dekat ke gendang telinga. Jadi kalau volumenya terlalu kencang, getarannya sangat ‘dardoor’ di dalam telinga kita,” ujar dr. Diar.
Di dalam rumah siput terdapat sel-sel rambut halus yang berfungsi menghantarkan suara ke saraf pendengaran dan kemudian ke otak. Jika sel-sel ini terus-menerus terpapar suara keras, lama-kelamaan bisa kelelahan dan rusak.
“Kalau sel rambut ini sudah kecapekan dan rusak, itu yang sangat bahaya karena tidak bisa pulih lagi.”
Aturan Aman 60-60 dari WHO
Agar tetap aman menggunakan earphone, dr. Diar mengingatkan aturan 60-60 yang direkomendasikan oleh WHO:
- Maksimal 60 menit pemakaian
- Dengan volume maksimal 60%
“Batas aman penggunaan earphone itu aturannya 60-60. Jadi 60 menit durasinya, lalu 60% volumenya,” jelas dr. Diar.
Setelah 60 menit, sebaiknya telinga diistirahatkan selama 5–10 menit agar sel rambut di dalam telinga memiliki waktu untuk pulih.
Tidak Hanya Earphone, Telepon Lama Juga Berisiko
Menariknya, risiko gangguan pendengaran tidak hanya berasal dari earphone. Menelepon dalam waktu lama dengan posisi ponsel menempel di telinga juga bisa berdampak.
Menanggapi pertanyaan pendengar yang mengaku telinganya sakit dan pusing saat menelepon, dr. Diar menjelaskan bahwa paparan suara dari telepon dalam durasi lama juga dapat memicu gangguan.
“Kalau memang mau menelepon dalam jangka waktu lama, mungkin bisa mengaktifkan speaker saja supaya jaraknya tidak terlalu dekat dengan lubang telinga.”
Paparan suara dalam jarak sangat dekat dan waktu lama tetap berisiko meski tanpa earphone.
Tanda-Tanda Awal yang Harus Diwaspadai
Salah satu gejala awal yang sering muncul adalah telinga berdenging atau muncul suara “nging” tanpa sebab.
“Kalau sudah mulai ada tanda-tanda bunyi berdenging yang muncul terus-menerus dan tidak hilang-hilang, sebaiknya konsultasi ke dokter THT.”
Selain itu, jika mulai sering merasa kurang dengar atau harus mengulang pembicaraan orang lain, itu juga bisa menjadi tanda adanya gangguan.
Kebiasaan Mengorek Telinga Juga Tidak Disarankan
Selain penggunaan earphone, kebiasaan membersihkan telinga dengan cotton bud juga bisa menimbulkan masalah.
“Sebetulnya kita tidak boleh menggunakan cotton bud terlalu dalam. Kadang kotorannya malah terdorong masuk,” jelas dr. Diar.
Telinga sebenarnya memiliki mekanisme alami untuk mengeluarkan kotoran, terutama saat kita mengunyah karena rahang bergerak dan membantu mendorong kotoran keluar perlahan.
Jika produksi kotoran berlebihan, sebaiknya dibersihkan oleh dokter THT, minimal setiap 6 bulan hingga 1 tahun sekali.
Jika Sudah Terjadi Gangguan, Apa yang Bisa Dilakukan?
Sayangnya, untuk gangguan pendengaran akibat kerusakan saraf, belum ada obat yang benar-benar bisa menyembuhkan.
Saat ini, penanganan yang bisa dilakukan adalah:
- Pemeriksaan pendengaran untuk mengetahui tingkat kerusakan
- Pemberian vitamin saraf seperti vitamin B kompleks untuk membantu keluhan
- Penggunaan alat bantu dengar jika diperlukan
Namun sekali lagi, pencegahan jauh lebih penting daripada pengobatan.
Pesan Penting untuk Generasi Gadget
Di akhir sesi, dr. Diar memberikan pesan penting:
“Bukan berarti tidak boleh sama sekali menggunakan earphone, boleh. Tapi harus selalu ingat 60-60. Setelah itu lakukan jeda istirahat 5 sampai 10 menit.”
Telinga adalah aset seumur hidup. Gangguan pendengaran bukan hanya memengaruhi kemampuan mendengar, tetapi juga kualitas komunikasi dan kehidupan sehari-hari.
Bijaklah dalam menggunakan earphone. Turunkan volume, batasi durasi, dan istirahatkan telinga secara berkala. Karena ketika gangguan pendengaran sudah terjadi, penyesalan datangnya selalu belakangan.
Jaga telinga kita mulai sekarang.

