INSPIRASI DAMANDIRI | Pemberdayaan Kaum Disabilitas Lewat Konveksi Anggrek KCB: Dari Keterbatasan Menjadi Kekuatan

Created | By: Redaktur | 02-Feb-2026

Inspirasi kerap lahir dari perjuangan. Itulah yang tergambar dalam Talkshow Inspirasi Damandiri di Radio DFM 103.4 FM, ketika sosok Ibu Sapto Yuli berbagi kisah tentang pemberdayaan kaum disabilitas melalui usaha konveksi Anggrek KCB (Karya Cacat Berkreasi). Dipimpin langsung oleh penyandang disabilitas, Anggrek KCB tumbuh menjadi ruang harapan—tempat keterbatasan tidak lagi menjadi stigma, melainkan kekuatan.

Perjalanan Anggrek KCB bermula pada tahun 2000. Saat itu, Ibu Yuli kerap mengalami penolakan ketika mencari pekerjaan karena kondisi disabilitas yang ia miliki. Alih-alih larut dalam kekecewaan, ia memilih jalan yang berbeda. “Kalau kita ditolak mencari pekerjaan, jalan satu-satunya adalah membuka lapangan pekerjaan. Kita yang harus membuka kesempatan itu,” ujarnya.

Berangkat dari tekad tersebut, Anggrek KCB lahir sebagai usaha kecil berbasis keterampilan. Ibu Yuli memulainya dari kerajinan tangan seperti melukis baju, sulam tangan, hingga patchwork dari kain perca. Pilihan ini bukan tanpa alasan.

Menurutnya, banyak penyandang disabilitas memiliki keunggulan di bidang keterampilan, selama diberi ruang untuk belajar dan berkembang.

Tak berhenti di situ, Ibu Yuli juga aktif berkeliling ke berbagai pelosok daerah. Ia memberikan pelatihan, membentuk plasma usaha, sekaligus menyosialisasikan pentingnya peran keluarga dalam mendukung penyandang disabilitas. “Yang paling dibutuhkan teman-teman disabilitas itu bukan dikasihani, tapi diberi kesempatan,” tegasnya.

Perjalanan panjang itu membawa Anggrek KCB bertransformasi. Pada tahun 2012, usaha ini mulai serius masuk ke dunia konveksi. Produk awal yang digarap adalah kerudung—dipilih karena relatif sederhana dan mudah dipelajari. Seiring waktu, kemampuan para pekerja meningkat. Anggrek KCB pun berkembang dari konveksi rumahan menjadi mini garmen, bahkan kini bersiap melangkah ke skala garmen yang lebih besar.

Salah satu kekuatan Anggrek KCB terletak pada sistem kerja inklusif. Pekerja disabilitas dan non-disabilitas bekerja berdampingan, tanpa sekat. Tidak ada syarat ijazah atau batasan usia. Yang utama adalah kemauan belajar dan semangat bekerja. Para pekerja ditempatkan sesuai kemampuan masing-masing—mulai dari menjahit, quality control, pembersihan benang, packing, hingga administrasi keuangan.

Dalam perjalanannya, tantangan sosial menjadi ujian tersendiri. Pandangan sebelah mata dan stigma masyarakat masih kerap dirasakan. Namun, Ibu Yuli memilih menjawabnya dengan kualitas. Dengan moto hidup “Cacat tubuhku, utuh karyaku”, ia menegaskan bahwa hasil kerja adalah bahasa paling jujur. “Saya ingin orang melihat karya kami, bukan melihat cacat kami,” tuturnya.

Setiap produk Anggrek KCB dijaga ketat mutunya. Quality control bahkan dilakukan langsung oleh Ibu Yuli. Upaya ini perlahan membuahkan hasil. Kepercayaan pelanggan tumbuh, datang dari berbagai daerah seperti Jawa Timur hingga Jawa Barat. Tak sedikit yang telah menjadi mitra setia selama lebih dari satu dekade.

Anggrek KCB juga menolak keras praktik membeli produk karena rasa kasihan. Bagi Ibu Yuli, produk harus dibeli karena kualitas, bukan belas kasihan. Prinsip inilah yang membuat Anggrek KCB mampu bersaing di pasar swasta yang kompetitif, tanpa perlakuan khusus.

Peran Yayasan Damandiri menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Anggrek KCB. Dukungan yang diberikan bukan sekadar seremonial, melainkan kepercayaan nyata melalui kerja sama dan order produksi. Yayasan Damandiri melihat Anggrek KCB dari sisi kualitas, bukan disabilitas. Kepercayaan ini mendorong Anggrek KCB berkembang pesat, membuka cabang di Sragen pada akhir 2025, serta memperluas jaringan produksi di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Tak hanya fokus pada usaha, Anggrek KCB juga bergerak di ranah sosial. Pada tahun 2026, bersama Yayasan Damandiri, Anggrek KCB berencana merenovasi mushola dan masjid di wilayah Pesisir Pantai Utara Bekasi agar lebih inklusif dan ramah disabilitas. Langkah ini diambil karena masih banyak penyandang disabilitas yang kesulitan mengakses tempat ibadah akibat keterbatasan fasilitas.

Kini, Anggrek KCB telah memberdayakan lebih dari 100 penyandang disabilitas di berbagai daerah. Perubahan paling nyata terlihat pada meningkatnya rasa percaya diri para pekerja. Mereka tidak lagi memandang diri dari sisi kekurangan, melainkan dari kelebihan yang dimiliki.

Menutup perbincangan, Ibu Yuli menyampaikan pesan kuat bagi sesama penyandang disabilitas. “Jangan fokus pada kekurangan kita. Di balik keterbatasan itu, Allah sudah menitipkan kelebihan yang luar biasa,” pesannya.

Bagi masyarakat luas, mendukung Anggrek KCB berarti mempercayai kualitas produknya. Setiap pembelian bukan hanya soal produk, tetapi juga tentang membuka lapangan kerja, memberdayakan masyarakat, dan mendorong inklusi yang nyata.


Ingin menyaksikan kisah inspiratif ini secara lengkap dan mendengar langsung perbincangan penuh makna bersama Ibu Sapto Yuli? Jangan lewatkan tayangan Talkshow Inspirasi Damandiri hanya di YouTube Radio DFM 103.4 FM. Saksikan, rasakan inspirasinya, dan sebarkan semangat kemandirian untuk semua!

RELATED ARTICLE

Musik Asli Indonesia

Gd. Granadi Lt.4 Sayap Selatan
Jl. HR. Rasuna Said Blok XI Kav. 8-9
Kuningan, Jakarta Selatan.
Office : (021) 5296.1417
Marketing : +62 816781583
Wa Studio : +62 811991034


PENCARIAN
PARTNER KAMI