INSPIRASI DAMANDIRI "Faktor Resiko Gagal Ginjal Pada Generasi Muda & Solusinya"

Created | By: Redaktur | 16-Dec-2025

Gagal ginjal kini tidak lagi identik dengan usia lanjut. Hal ini disampaikan oleh dr. Tommy P. Sibuea, Sp.PD., FINASIM, dokter spesialis penyakit dalam, dalam perbincangan pada acara Inspirasi Damandiri yang digelar 8 Desember 2025. Menurutnya, saat ini terjadi pergeseran usia penderita gangguan ginjal yang semakin banyak dialami oleh generasi muda.

“Dulu gagal ginjal itu identik dengan usia 50, 60, bahkan 70 tahun. Sekarang, yang datang justru usia 30 sampai 40 tahun,” ujar dr. Tommy. Ia menjelaskan bahwa penurunan fungsi ginjal tidak terjadi secara mendadak, melainkan perlahan dan sering kali tanpa gejala. Ketika disadari, kerusakan sudah cukup berat hingga akhirnya membutuhkan terapi cuci darah.

Perubahan pola penyakit ini tidak lepas dari gaya hidup modern, tingkat ketegangan atau stres yang tinggi, serta kondisi pasca Covid-19 yang ikut memengaruhi kebiasaan hidup masyarakat. Konsumsi makanan dan minuman pun mengalami perubahan signifikan. “Sekarang makanan manis makin banyak, makanan gurih juga makin banyak,” kata dr. Tommy.

Ia menjelaskan bahwa makanan manis menyebabkan paparan gula yang tinggi dalam tubuh. Akibatnya, kadar gula darah meningkat dan berisiko memicu diabetes. Sementara makanan gurih umumnya mengandung natrium tinggi, baik dari garam maupun MSG, yang dapat menyebabkan tekanan darah meningkat. “Dua faktor ini, diabetes dan tensi tinggi, adalah musuh utama ginjal karena membuat beban kerjanya jauh lebih berat,” jelasnya.

Fenomena kopi kekinian juga menjadi sorotan. Menurut dr. Tommy, kopi pada dasarnya tidak menjadi masalah. “Kopinya tidak apa-apa, yang jadi masalah itu gulanya,” ujarnya. Kandungan gula yang berlebihan dalam minuman kopi dapat meningkatkan beban ginjal. Ia menambahkan, konsumsi kopi masih tergolong aman hingga dua cangkir per hari, dengan catatan tanpa gula. Jika dikonsumsi berlebihan, kinerja ginjal pun akan semakin berat.

Tren hidup sehat dengan rutin berolahraga, termasuk nge-gym, juga tidak luput dari perhatian. Banyak anak muda merasa sudah menjalani pola hidup sehat, namun tanpa disadari mengonsumsi protein dalam jumlah berlebihan demi membentuk otot. “Protein tidak dilarang, tapi kalau berlebihan, sisa metabolisme seperti nitrogen harus dibuang oleh ginjal. Kalau terlalu banyak, ginjalnya jadi kewalahan,” ungkap dr. Tommy. Karena itu, ia menyarankan agar konsumsi protein disesuaikan dengan kebutuhan dan diimbangi dengan pemeriksaan fungsi ginjal secara berkala.

Dr. Tommy kemudian mengingatkan kembali peran vital ginjal dalam tubuh. Ia menggambarkan ginjal seperti sebuah filter yang menyaring darah dari berbagai zat sisa dan racun. “Kelebihan protein, kelebihan nitrogen, semuanya dibuang lewat urine. Tapi kalau sampahnya terlalu banyak, filternya lama-lama tidak kuat,” katanya.

Selain asupan makanan, kecukupan cairan juga menjadi faktor penting. Salah satu tanda tubuh kekurangan minum adalah warna urine yang semakin pekat. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, risiko kerusakan ginjal akan meningkat. Namun, ia juga meluruskan anggapan yang keliru di masyarakat. “Ada yang bilang supaya ginjal sehat, pagi-pagi minum 2,5 liter air. Itu tidak tepat. Yang benar, 2,5 liter itu dibagi dan diminum sepanjang hari,” tegasnya.

Soal vitamin, dr. Tommy menekankan pentingnya memperhatikan sumbernya. Tubuh memang membutuhkan vitamin, tetapi yang paling baik adalah yang berasal dari sumber alami. “Apakah vitaminnya dari buah dan sayur, atau dari yang instan seperti suplemen? Yang paling baik tentu yang alamiah dan bervariasi,” jelasnya.

Di akhir perbincangan, dr. Tommy mengingatkan bahwa ancaman gagal ginjal pada generasi muda adalah sesuatu yang nyata. Pola makan tinggi gula dan garam, konsumsi minuman manis berlebihan, asupan protein yang tidak terkontrol, serta kebiasaan kurang minum dapat perlahan merusak ginjal tanpa disadari. Dengan kesadaran sejak dini, perubahan gaya hidup, dan pemeriksaan kesehatan secara rutin, risiko gagal ginjal di usia produktif dapat dicegah.


Saksikan perbincangan lengkap dan mendalam bersama dr. Tommy P. Sibuea, Sp.PD., FINASIM hanya di channel YouTube Radio DFM @103.4 DFM. Klik dan tonton selengkapnya melalui tautan berikut: https://www.youtube.com/watch?v=8pbwd6-P0_4

RELATED ARTICLE

Musik Asli Indonesia

Gd. Granadi Lt.4 Sayap Selatan
Jl. HR. Rasuna Said Blok XI Kav. 8-9
Kuningan, Jakarta Selatan.
Office : (021) 5296.1417
Marketing : +62 816781583
Wa Studio : +62 811991034


PENCARIAN
PARTNER KAMI