Pada 31 Juli 2024 lalu, Yayasan Damandiri melakukan penyerahan domba secara simbolis dan tasyakuran villa di Rest Area Kawasan Wisata Baduy Cirinten, Lebak, Banten.
Sebelum acara seremonilal tersebut dilangsungkan, Ketua Yayasan Damandiri dan Pengurus, selain sudah dilakukan peninjauan langsung ke tempat peternakan domba Bersama Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lebak, Banten, drh. Rahmat Yunisr, SP, M.Si dan dialog dengan tokoh Masyarakat, pemuka agama serta Masyarakat.
Lalu bagaimana Ketua Yayasan Damandiri melihat kesiapan masayarakat, serta tanggapan Kepala Desa Cirinten? Kemudian seperti pola pembiakan kambing tersebut? Lalu mengapa pilot projek kambing ini dilakukan di Cirinten yang identik dekat dengan Kawasan wisata Baduy, mengapa tidak di tempat lain?
Berikut petikan wawancara ekslusif Nurul Afina dari Radio DFM Jakarta.
Bagaimana Bapak melihat kesiapan masyarakat?
Dari pengamatan kita kalau dari kesiapan mereka sudah biasa beternak. Hanya pola yang kita coba kalau selama ini tradisional. Nah sekarang bagaimana caranya kalau ada kambing betina 10 ekor, sekaligus 10 ekor betina tersebut hamil. Kalau selama ini, yang dilakukan itu masih terserah dia (si kambing itu) aja. (Maksudnya si kambing itu) kapan mereka kawin, kapan mau hamil. Ini kita coba untuk sekaligus bisa hamil semua. Setelah nanti (semuanya) hamil, baru kita serahkan kepada penduduk untuk memeliharan. Setelah lahir dibagi dua hasilnya. Kemudian induknya kita tarik lagi. Lalu induknya tersebut (dibikin) hamil lagi di sini (kandang), kemudian diserahkan kembali ke penduduk yang lain. Itu akan bergulir terus. Kalau ini berhasil akan ditambah lagi, tambah lagi, tambah lagi.
Kalau kita (Damandiri) bisa menambah sampai 1000 ekor, berarti ada 100 KK (kepala keluarga). Itu bisa treus bergulir, kita bisa bayangkan kalau dalam satu tahun bisa melahirkan dua kali, mungkin akan dapat 3000 ekor domba.
Kenapa domba?
Sebetulnya untuk domba ini kebutuhannya juga cukup besar, bukan saja saatsaat idul adha, tapi kebutuhan untuk konsumsi hariannya juga lumayan besar. Konsumsi daging kambing di Jakarta saja cukup besar. Artinya kebutuhan akan akan kambing itu cukup besar. Ini menjadi satu peluang.
Makanya mengapa kita coba kambing di sini. Karena mereka peternak. Polanya aja yang kita coba untuk biar serempak hamilnya lahirnya bareng. Jadi mereka senang memelihara kambing banyak. Lahirnya banya berturut-turut. Tidak tergantung pada kambing.
Saat meninjau ke Lokasi kendang peternakan kambingnya, apakah ada catatan-catatan?
Di kandang, sudah masuk 80 ekor. Itupun 3 ekor sudah hamil. Jadi mungkin nanti harus kita tambah lagi. Sebetulnya target saya 100 ekor di gelombang pertama ini.
Apakah di gelombang pertama dan gelombang nanti selanjutnya juga akan dipantau, dimonitor, diawasi oleh Damandiri atau seperti apa?
Kalau Yayasan (Damandiri) mungkin SDM-nya terbatas. Di sini (Lebak) ada Kepala Dinas Peternakannya, tadi(kemarin) itu saya titipkan langsung. Kemudian ia (Dinas Peternakan) punya juga tim kesehatannya. Yang utama Pak Lurahanya (Kepala Desa). Kepala Desanya semnagat sekali untuk memajukan masyarakat sini (Cirinten).
Target saya dua tahun sudah bisa berkembang menjadi berapa ribu ekorlah.
Kambing yang sudah melahirkan, 5 bulan dikembalikan lagi ke kandang, kawin lagi kemudian hamil lagi. Jadi dalam setahun bisa dua kali melahirkan.
Jadi kalau dalam satu gelombang 100 ekor, kalau bisa 5 berarti 500. Nah 500 kali 2 berarti 1000. Anaknya kalau 1 ekor, tapi kalau anaknya 2, berarti 1000 ekor.
Apa harapan Bapak ke depan?
Saya ingin, desa (Cirinten) ini jadi desa (sentra) domba.
Sebetulnya di sini (Cirinten) ini untuk pancingan. Makanya kepada tidak ditempat lain? Orang tahunya Badui. Apa sih Badui? Kalau dimedsos (tiktok), tahunya Sarty Badui (Sarti Baduy, gadis cantik yang pandai menyulam dan murah senyum, yang kini berteman dengan konten kreator, dan kini dikasih hp, red). Yang mejeng si Sarty aja. Padahal banyak yang kita bisa lihat di Baduy

