Siapa bilang teknokrat Indonesia hanya Prof. BJ Habibie?
Ternyata selain Prof. BJ Hbaibie, Indonesia punya banyak penemu hebat yang mendunia dan membanggakan Masyarakat, salah satunya Profesor Dr HC, Ir. Sedyatmo.
DFM Mania, siapa itu Profesor Sedyatmo itu?
Profesor Sedyatmo adalah tokoh di balik sistem Pondasi Cakar Ayam.
DFM Mania, selama ini kita mengenal konstruksi cakar ayam digunakan dalam berbagai bangunan. Sistem pondasi ini telah diaplikasikan khususnya untuk bangunan yang berdiri di atas tanah lembek atau berawa.
Prof. Ir. Sedyatmo Dr HC, lahirkan di Solo, 24 Oktober 1909. Ia merupakan lulusan Hollandsch-Inlandsche School (HIS). Dikenal dunia setelah mengembangkan sistem pondasi Cakar Ayam. Sistem ini cocok digunakan di jalan-jalan raya, jalan kereta api, landasan pelabuhan udara, bangunan, bahkan seluruh perkotaan terlebih untuk daerah yang memiliki struktur tanah lembek atau berawa.
DFM Mania, sistem pondasi Cakar Ayam temuan Ir Sedyatmo ini diunggulkan karena mampu menopang beban di tanah yang lembek. Selain itu, pondasi sistem Cakar Ayam juga mampu mengurangi biaya, material, dan waktu pengerjaan. Dan daya dukungnya dinilai lebih tinggi dan tidak memerlukan sela-sela untuk menampung pengembangan akibat perubahan cuaca.
Konstruksi Cakar Ayam yang ditemukannya pada tahun 1962 itu awalnya digunakan dalam pembuatan apron Pelabuhan Udara Angkatan Laut Juanda, Surabaya, landasan bandara Polonia, Medan, dan landasan bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Dan hasil temuannya tersebut telah dipatenkan dan dipakai di luar negeri.
Atas atas jasa-jasanya dan prestasinya tersebut, cendekiawan, praktisi, ilmuwan dan guru besar Institut Teknologi Bandung ini pun oleh Pemerintah Indonesia dianugerahi penghargaan Bintang Mahaputra Kelas I.
Selain itu namanya diabadikan sebagai nama jalan bebas hambatan dari Jakarta menuju bandar Soekarno-Hatta – Jalan Prof Ir Sedyatmo.
DFM Mania, selain sistem pondasi Cakar Ayam temuan lain Prof Ir Sedyatmo antara lain jembatan air Wiroko di Wonogiri. Jembatan tersebut berbeda dengan jembatan lainnya karena hanya memiliki tebal 8 sentimeter, sementara yang lain memiliki ketebalan 35 sentimeter. Karyanya di Wonogiri tersebut merupakan karya penemuannya yang pertama.
Hasil karya Prof Ir Sedyatmo lainnya adalah sistem konstruksi pipa pesat tekanan tinggi untuk memutar turbin pembangkit air, alat pengangkat air dari permukaan rendah ke permukaan tinggi.
Dan Prof Ir Sedyatmo juga membuat sistem pembangunan jembatan “Ontoseno” yang menghasilkan jembatan apung di atas Sungai Kapuas dan Sungai Barito. Lalu ada bendungan lengkung ganda di Ngebel. Bendungan ini dibuat dengan mengiris lereng gunung untuk mendapatkan tekanan air yang lebih besar.
Selain itu Prof Ir Sedyatmo juga membuat konstruksi beton tipis yang hemat biaya dan sistem bentang khusus untuk jembatan.
Yang bikin banggga, karya-karya tersebut telah dikemukakan di hadapan berbagai sidang pleno dari World Power Conference dari tahun 50-an sampai 60-an.
DFM Mania, sebagaimana pondasi sistem cakar ayam, karya-karya lama Sedyatmo juga telah diterapkan secara sukses dan mendapatkan 17 hak paten negara besar.
Atas prestasinya, Prof Ir Sedyatmo selain mendapat Satya Lencana Pembangunan dari Pemerintah, juga memperoleh Anugerah Pendidikan, Pengabdian dan Ilmu Pengetahuan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, serta Piagam Penghargaan Departemen Pertanian.
Prof Ir Sedyatmo juga menerima penghargaan Doctor Honoris Causa dari Institut Teknologi Bandung. Sebagai penghargaan atas karyanya.
Ia juga diangkat sebagai anggota luar biasa dari US National Research Council (Divison of Engineering). Bahkan kampus teknik terbesar di Jerman Technische Hochschule Aachen (sekarang RWTH Aachen University) pada saat itu juga telah memasukkan penemuan pondasi sistem Cakar Ayam ke dalam kurikulum pendidikannya.
Presiden Perancis de Gaulle pada tahun 1969 memberikan tanda jasa kepada Sedyatmo, berdasarkan ‘Outstanding Contributons to Technological Knowledge’, setelah ia berhasil memimpin proyek Jatiluhur.
Pemerintah Perancis bahkan telah mengangkatnya menjadi Chevaller de la Legion d’Honnoeur. Pondasi ini mampu menahan berat pesawat hingga 2000 ton. Penemuannya ini tekah dipublikasikan dalam beberapa majalah luar negeri seperti Traffic Enginering, Le Genie Civil, dan lainlain.
Bahkan DFM Mania, publikasinya dalam majalah Foreign Research News, membuat Prof Ir Sedyatmo memperoleh penghargaan dari Highway Research Board sebagai supporting member.
Atas semua karya inovatif Prof Ir Sedyatmo itu pastinya bikin kita bangga ya DFM Mania.

