BANTUL – Museum Memorial Jenderal Besar H.M. Soeharto di Kemusuk, Bantul, Yogyakarta memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-13 sekaligus 105 tahun kelahiran Presiden ke-2 Republik Indonesia, Jenderal Besar H.M. Soeharto, pada 8 Juni 2026.
Berbagai kegiatan digelar dalam rangkaian acara tersebut, mulai dari doa bersama, tasyakuran, hingga sarasehan yang membahas sosok dan pemikiran Pak Harto.
Kepala Museum Memorial Jenderal Besar H.M. Soeharto, H. Gatot Nugroho, S.Pt., mengatakan peringatan ini menjadi bentuk rasa syukur atas perjalanan museum yang telah berdiri selama 13 tahun dan terus berkontribusi dalam memberikan edukasi sejarah kepada masyarakat.
"Alhamdulillah museum bisa memberikan kontribusi yang positif untuk masyarakat, memberikan edukasi tentang nasionalisme, wawasan kebangsaan dan karakter Pancasila. Dan yang pasti sejarah bangsa, sejarah tidak hanya Pak Harto, tapi sejarah perjuangan para pahlawan kita semuanya," kata Gatot Nugroho.
Acara tersebut dihadiri berbagai unsur pemerintah daerah, tokoh masyarakat, komunitas museum, hingga warga sekitar Kemusuk. Selain tasyakuran, kegiatan juga diisi sarasehan yang menghadirkan sejumlah narasumber untuk membahas peran dan kontribusi Soeharto dalam pembangunan Indonesia.
Menurut Gatot, salah satu materi yang dibahas dalam sarasehan adalah kiprah Soeharto dalam bidang pendidikan. Pada masa pemerintahannya, pembangunan sekolah dasar dilakukan secara masif untuk mengatasi tingginya angka buta huruf dan rendahnya akses pendidikan.
"Program Pak Harto adalah dibangunlah ratusan ribu SD dari Sabang sampai Merauke supaya masyarakat bisa menulis, membaca, dan berhitung," ujarnya.
Selain pendidikan, sarasehan juga mengulas perjalanan hidup Soeharto yang lahir dan dibesarkan di Kemusuk hingga menjadi pemimpin nasional. Nilai kesederhanaan dan kedekatan dengan masyarakat disebut menjadi salah satu karakter yang terus dikenang hingga saat ini.
Gatot menilai peringatan 105 tahun kelahiran Soeharto menjadi momentum untuk melihat kembali berbagai nilai positif yang dapat dijadikan pembelajaran bagi generasi muda.
"Pak Harto adalah sosok anak desa yang sederhana. Sejak kecil beliau dekat dengan ilmu agama dan para kiai," tuturnya.
Peringatan HUT ke-13 Museum Memorial H.M. Soeharto juga menjadi pengingat pentingnya menjaga sejarah bangsa agar tetap hidup di tengah masyarakat. Melalui berbagai program edukasi yang dijalankan museum, nilai-nilai nasionalisme dan kecintaan terhadap tanah air diharapkan terus diwariskan kepada generasi penerus.

