Berawal dari Modal Rp2 Juta, Pawon Nunung Kini Tembus Pasar Jepang dan Hong Kong

Created | By: Redaktur | 09-Oct-2026

Berawal dari usaha sederhana dengan modal sekitar Rp 2 juta pada 2018, Pawon Nunung kini terus berkembang dan membawa produk makanan khas Indonesia hingga ke pasar internasional. Kisah perjalanan tersebut disampaikan langsung oleh pemilik Pawon Nunung, Ibu Hj. Chusnul Chotimah, SE, saat menjadi narasumber dalam Talkshow Inspirasi Damandiri di Radio DFM Jakarta.

Nama Pawon Nunung memiliki cerita tersendiri. “Nunung” merupakan nama panggilan Ibu Chusnul sejak kecil di kampung halamannya, Sidoarjo, Jawa Timur. Sementara “pawon” dalam bahasa Jawa berarti dapur. Dari situlah kemudian lahir nama Pawon Nunung yang kini menjadi merek berbagai produk makanan miliknya.

Ibu Chusnul mulai merintis usaha pada 2018 dengan mengangkat makanan yang dekat dengan tradisi dan kampung halamannya, yaitu tahu petis. Saat itu, produknya masih menggunakan nama Tahu Petis Yahud. Dengan modal sekitar Rp2 juta, ia membeli bahan baku petis dari Surabaya sekaligus menyiapkan peralatan untuk produksi.

Namun, perjalanan mengembangkan usaha tidak selalu berjalan mulus. Ketika mengikuti bazar di kawasan Bintaro, Ibu Chusnul menyadari bahwa tahu petis belum tentu cocok dengan selera masyarakat Jakarta yang berasal dari berbagai daerah. Ia pun mulai mengembangkan produk lain yang lebih mudah diterima pasar.

Dari sinilah Pawon Nunung mulai menambah berbagai produk, salah satunya rengginang. Seiring waktu, produknya semakin beragam, mulai dari kentang Mustofa, tempe orek, peyek, sambal, hingga berbagai makanan untuk snack box dan nasi box.

Saat ini, Pawon Nunung memiliki sekitar 200 produk yang telah mendapatkan sertifikasi halal. Produk yang ditonjolkan pun disesuaikan dengan kebutuhan dan permintaan pasar. Dari berbagai produk tersebut, rengginang menjadi salah satu produk yang paling banyak diminati.

Perkembangan Pawon Nunung juga tidak lepas dari berbagai program pelatihan dan pendampingan UMKM. Ibu Chusnul aktif mengikuti pelatihan dari pemerintah, dinas, perbankan, hingga berbagai program pengembangan UMKM. Menurutnya, pelaku usaha harus mau belajar, mengikuti perkembangan digital marketing, serta aktif mencari peluang.

“Jangan lihat saya sekarang. Lihat semua prosesnya dari awal, kehujanan, kepanasan. Harus tahan banting,” ujar Ibu Chusnul dalam talkshow.

Perjalanan tersebut sempat menghadapi tantangan besar ketika pandemi COVID-19. Penjualan makanan menurun drastis. Ibu Chusnul pun sempat menghentikan sementara penjualan makanan dan beralih menjual masker. Pesanan masker bahkan datang dari sejumlah daerah, termasuk Kalimantan.

Setelah situasi mulai membaik, Ibu Chusnul kembali menjalankan usaha makanan dan terus mengikuti berbagai pelatihan, termasuk secara daring. Dari proses panjang tersebut, Pawon Nunung perlahan berkembang dan mulai masuk ke sejumlah retail, seperti Sarinah Thamrin, Transmart, dan Galeri PLN.

Tidak berhenti di pasar dalam negeri, produk Pawon Nunung juga mulai mendapat kesempatan untuk diperkenalkan ke pasar luar negeri. Rengginang menjadi salah satu produk yang berhasil menembus pasar internasional. Produk tersebut telah dibawa ke Jepang dan kini tersedia di salah satu pusat perdagangan produk UMKM Indonesia di Jepang.

Selain Jepang, produk Pawon Nunung juga telah dibawa ke Malaysia, Arab Saudi, hingga China. Pawon Nunung juga telah melakukan penjajakan dengan buyer dari Hong Kong dan tinggal menunggu proses legalitas yang diperlukan untuk transaksi.

Bagi Ibu Chusnul, pencapaian tersebut bukan hasil yang datang secara instan. Keikutsertaan dalam bazar, pelatihan, program pemerintah, hingga berbagai kegiatan promosi menjadi bagian penting dalam perjalanan Pawon Nunung untuk terus berkembang.

Ia juga menekankan bahwa menjadi pelaku UMKM bukan sekadar berjualan. Pelaku usaha perlu memiliki kemampuan digital marketing, membangun jaringan, menjaga sikap, serta saling mendukung dengan sesama pelaku UMKM.

“Kalau mau jualan jangan bilang enggak bisa, harus bisa. Pasti ada penjual, pasti ada pembeli. Jadi jangan takut enggak laku,” pesan Ibu Chusnul.

Lewat Pawon Nunung, Ibu Chusnul juga ingin mempertahankan keberadaan makanan tradisional agar tetap dikenal generasi muda. Tahu petis yang menjadi produk awal usahanya menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kembali makanan khas Nusantara di tengah banyaknya pilihan makanan kekinian.

Dari modal awal sekitar Rp2 juta hingga mampu membawa produk ke berbagai negara, perjalanan Pawon Nunung menunjukkan bahwa membangun UMKM membutuhkan proses panjang, keberanian untuk mencoba, dan kemauan untuk terus belajar.

Bagi Ibu Chusnul, ketika sebuah usaha menghadapi kegagalan, yang terpenting bukan berhenti, tetapi bangkit dan mencari jalan lain. Prinsip itulah yang terus dibawanya dalam mengembangkan Pawon Nunung hingga saat ini.

RELATED ARTICLE

Musik Asli Indonesia

Gd. Granadi Lt.4 Sayap Selatan
Jl. HR. Rasuna Said Blok XI Kav. 8-9
Kuningan, Jakarta Selatan.
Office : (021) 5296.1417
Marketing : +62 816781583
Wa Studio : +62 811991034


PENCARIAN
PARTNER KAMI