Memperingati Hari Kesaktian Pancasila, penting bagi generasi muda untuk tidak hanya mengenal Pancasila sebagai dasar negara, tetapi juga memahami sejarah dan mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut disampaikan Kepala Museum Jenderal Besar H.M. Soeharto, H. Gatot Nugroho, S.PT., dalam talkshow Inspirasi Damandiri Radio DFM Jakarta, Kamis, 1 Oktober 2026.
Menurut Gatot, Pancasila merupakan dasar sekaligus ideologi negara yang lahir melalui proses panjang perjuangan bangsa Indonesia. Karena itu, pemahaman terhadap sejarah dan nilai-nilai Pancasila dinilai penting untuk membentuk karakter generasi penerus bangsa.
“Pancasila itu adalah dasar negara Indonesia dan rumusan dari pendahulu bangsa,” ujar Gatot.
Ia menilai, peringatan Hari Kesaktian Pancasila juga menjadi momentum untuk kembali mengingat sejarah bangsa, termasuk peristiwa Gerakan 30 September 1965 dan upaya mempertahankan Pancasila sebagai ideologi negara.
Dalam konteks sejarah tersebut, Gatot menjelaskan peran Jenderal Besar H.M. Soeharto dalam menangani situasi nasional setelah peristiwa 30 September 1965. Menurutnya, sejarah tersebut menjadi bagian penting yang terus disampaikan kepada para pengunjung Museum Jenderal Besar H.M. Soeharto di Kemusuk, Bantul, Yogyakarta.
“Sejarah yang ada di dalam gerakan 30 September PKI, kemudian sejarah Kesaktian Pancasila, menjadi bagian dari museum kami,” jelasnya.
Museum Jenderal Besar H.M. Soeharto tidak hanya menyimpan berbagai koleksi dan informasi sejarah, tetapi juga aktif memberikan edukasi kepada generasi muda melalui program Sekolah Kebangsaan.
Dalam program tersebut, para pelajar diajak mengikuti sejumlah kegiatan sederhana namun sarat dengan nilai kebangsaan. Mulai dari menyanyikan lagu Indonesia Raya, mengenal simbol-simbol negara, hingga mengucapkan Pancasila bersama-sama.
Bagi Gatot, kegiatan tersebut menjadi pemantik agar para pelajar kembali memahami arti penting Pancasila. Edukasi tidak berhenti ketika kunjungan ke museum selesai, tetapi diharapkan dapat dilanjutkan oleh para guru di lingkungan sekolah.
“Paling tidak pendidikan Pancasila harus selalu dijaga dan disampaikan kepada anak-anak bangsa,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya pendidikan sejarah dalam membangun karakter generasi muda. Menurutnya, pemahaman sejarah tidak seharusnya hanya menjadi bagian kecil dari pembelajaran, tetapi perlu mendapat porsi yang lebih strategis dalam pendidikan nasional.
Gatot mengingatkan, generasi muda saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, termasuk derasnya pengaruh globalisasi. Karena itu, nilai-nilai Pancasila dinilai perlu terus diperkuat agar generasi muda memiliki karakter dan jati diri sebagai bangsa Indonesia.
“Sejarah itu melihat masa lalu, mengevaluasi pada saat ini dan menjadi bekal utama untuk masa depan,” tuturnya.
Selain melalui pendidikan formal, Gatot berharap pengamalan Pancasila juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, masyarakat, maupun dalam menggunakan media sosial.
Menurutnya, Pancasila tidak cukup hanya dihafalkan atau diucapkan. Nilai-nilainya harus diwujudkan melalui sikap dan perilaku, seperti menjaga persatuan, menghormati sesama, serta membangun kehidupan masyarakat yang rukun.
Melalui edukasi sejarah yang dilakukan secara rutin, Museum Jenderal Besar H.M. Soeharto berharap generasi muda semakin memahami perjalanan bangsa sekaligus memiliki kesadaran untuk menjaga nilai-nilai Pancasila.
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila pun diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial setiap 1 Oktober, tetapi menjadi momentum untuk terus mengingat sejarah, memahami nilai-nilai kebangsaan, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

