Bisnis kuliner tidak selalu harus dimulai dengan modal besar. Hal itu dibuktikan Yolanda, owner Rendang Yonaniko, yang mengawali usahanya dengan modal sekitar Rp 5 juta. Berawal dari masakan keluarga yang dibawa ke kantor untuk dicicipi teman-teman, usaha tersebut perlahan berkembang hingga akhirnya dikelola secara lebih serius.
Dalam Talkshow Inspirasi Damandiri, Yolanda menceritakan bahwa Rendang Yonaniko sebenarnya sudah mulai dibuat sejak 2016. Saat itu, usaha tersebut belum dikelola secara profesional dan masih menjadi kegiatan sampingan di tengah pekerjaannya sebagai banker.
“Awal mula kita mulai bikin rendang tuh dari tahun 2016. Cuma dulu belum terlalu diseriusin banget. Masih kayak ibu mertuaku kebetulan suka masak, kemudian aku bawa ke kantor coba-cobain ke teman-teman,” ujar Yolanda.
Respons positif dari orang-orang di sekitarnya kemudian membuat Yolanda melihat adanya peluang bisnis. Beberapa tahun setelahnya, ia mulai membenahi berbagai aspek usaha, mulai dari kemasan, perizinan hingga standar produksi. Secara legalitas, Rendang Yonaniko mulai berdiri pada 2022.
Modal awal sekitar Rp 5 juta digunakan untuk berbagai kebutuhan dasar usaha, seperti pembuatan logo dan stiker, pembelian bahan baku serta kemasan. Dari usaha yang awalnya masih sederhana, Rendang Yonaniko kini mampu mencatat omzet sekitar Rp 50 juta hingga Rp 60 juta per bulan pada periode non-musiman.
Perjalanan tersebut juga menjadi alasan Yolanda akhirnya memutuskan meninggalkan pekerjaannya sebagai banker setelah sekitar 15 tahun. Menurutnya, potensi bisnis yang semakin terlihat membuatnya ingin lebih fokus mengembangkan usaha.
“Sebenarnya usaha ini punya potensi untuk lebih besar ke depannya. Dengan waktu aku kerja di kantor kalau disambi-sambi itu kayaknya enggak total. Jadi kupikir dengan aku resign aku bisa lebih memaksimalkan produktivitas,” katanya.
Dalam menjalankan bisnis, Yolanda mengakui tantangan UMKM tetap ada, terutama dari sisi permodalan. Ia memiliki keinginan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas pasar. Namun, proses tersebut dijalani secara bertahap.
Saat ini Rendang Yonaniko memiliki tiga karyawan tetap yang fokus pada produksi. Ketika pesanan meningkat, Yolanda juga menggunakan tenaga freelance untuk membantu pekerjaan tertentu.
Menariknya, Yolanda tidak merasa harus buru-buru membuka toko fisik. Ia justru melihat model penjualan melalui toko online dan kerjasama catering perusahaan sebagai pola bisnis yang lebih sesuai dengan kondisi usahanya saat ini.
Produk Rendang Yonaniko dipasarkan melalui berbagai marketplace, termasuk toko oren dan toko hitam. Selain produk kemasan, Yolanda juga mengembangkan layanan rice bowl dengan lauk rendang dan aneka masakan Minang yang dipasok ke sejumlah perusahaan untuk kebutuhan makan siang maupun acara.
Bagi Yolanda, perkembangan usaha tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal, tetapi juga kemauan untuk terus menjalankan proses. Ia pun memberikan pesan sederhana bagi masyarakat yang ingin memulai bisnis.
“Yang paling penting kalau orang punya bisnis tuh kalau buat aku konsisten. Jadi ketika namanya orang jualan kan naik turun. Enggak selalu kita untung terus. Ada masanya kita rugi, ada masanya kita dikomplain orang. Yang penting konsisten dan jangan nyerah,” ujarnya.
Perjalanan Rendang Yonaniko menunjukkan bahwa sebuah usaha dapat berkembang dari langkah sederhana. Dari masakan keluarga, modal awal Rp5 juta, hingga kini memiliki pasar di dalam dan luar negeri, Yolanda terus membawa bisnisnya bertumbuh secara bertahap.

