Suasana penuh khidmat dan kehangatan terasa di Astana Giri Bangun, Karanganyar, ketika Ketua Umum Yayasan Harapan Kita (YHK) dan Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan (YDGRK), Ibu Hj. Siti Hardianti Hastuti Rukmana, bersama jajaran pengurus dan staf, melakukan ziarah pada 22 September 2026 dalam rangka memperingati ulang tahun YHK ke-58 dan YDGRK ke-40.
Ziarah tersebut menjadi momentum untuk mengenang dan mendoakan para pendahulu yang telah lebih dahulu berpulang. Rangkaian doa bersama diawali dengan pembacaan Al-Qur'an, Surah Yasin, dan tahlil yang dipanjatkan untuk almarhum Jenderal Besar HM. Soeharto dan almarhumah Ibu Hj. Siti Hartinah Soeharto, serta keluarga yang telah mendahului.
Di tengah suasana hening Astana Giri Bangun, lantunan doa mengalir dengan penuh kekhusyukan. Bukan sekadar menjadi ungkapan penghormatan kepada mereka yang telah tiada, ziarah ini juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga nilai kepedulian dan kebersamaan yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Usai doa bersama, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan berbagi kebahagiaan melalui pemberian santunan kepada anak yatim dan warga di sekitar Astana Giri Bangun.
Ketua Umum Yayasan Harapan Kita menyerahkan santunan kepada anak-anak yatim dari Karangbangun yang diwakili oleh Aria. Santunan juga diberikan kepada warga lanjut usia dari Delayu, yakni Mbah Mangun Dimetjo.
Kepedulian juga datang dari Pimpinan PT Kelola Aset Nusantara, Bapak H. Sapardjo Sastro. Bantuan diberikan kepada para karyawan Astana Giri Bangun, termasuk Latno, serta para pedagang dan petugas parkir yang diwakili oleh Ibu Dewi.
Sementara itu, bantuan bagi para relawan dan masyarakat dari Karangbangun, Matesih, dan Karanglintasbangun diserahkan oleh Bapak Jeffrey dan Ibu Lisnawati.
Sebanyak 150 santunan diberikan dalam rangkaian kegiatan tersebut. Jumlah itu bukan sekadar angka, melainkan menjadi bagian dari kepedulian yang diharapkan dapat menghadirkan sedikit kebahagiaan dan meringankan kebutuhan masyarakat yang menerimanya.
Peringatan ulang tahun YHK ke-58 dan YDGRK ke-40 akhirnya tidak hanya menjadi perjalanan mengenang sejarah dan mendoakan para pendahulu. Lebih dari itu, momentum tersebut juga menjadi kesempatan untuk menebarkan perhatian kepada sesama.
Dari Astana Giri Bangun, doa dipanjatkan untuk mereka yang telah pergi, sementara tangan-tangan kepedulian diulurkan kepada mereka yang masih melanjutkan kehidupan. Sebuah rangkaian sederhana yang mempertemukan doa, kenangan, dan kasih kepada sesama dalam satu suasana yang penuh makna.

