Keterlambatan bicara pada anak menjadi salah satu hal yang sering membuat orang tua khawatir. Ketika anak seusianya sudah mulai banyak mengucapkan kata, berkomunikasi dan merespons orang di sekitarnya, sementara anak sendiri belum menunjukkan perkembangan yang sama, muncul pertanyaan apakah kondisi tersebut masih dalam batas normal atau membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Hal tersebut menjadi pembahasan dalam Talkshow Inspirasi Damandiri Radio DFM Jakarta bersama Ketua Yayasan Bina Wicara, drg. Sri Utami Sudarsono, M.Si., dan Direktur Politeknik Arutala, Hikmatun Sadiah, A.Md TW., M.Pd. Keduanya menjelaskan bahwa kemampuan bicara anak tidak berdiri sendiri karena berkaitan dengan kemampuan mendengar, perkembangan bahasa, kognitif, kondisi psikososial, hingga stimulasi dari lingkungan.
Hikmatun Sadiah mengatakan, penyebab anak terlambat bicara bisa berasal dari faktor internal maupun eksternal. Dari sisi internal, misalnya terdapat gangguan pendengaran yang belum terdeteksi, hambatan kognitif, kondisi psikososial, hingga faktor keluarga yang memiliki riwayat keterlambatan bicara.
Sementara dari lingkungan, kurangnya stimulasi komunikasi juga dapat memengaruhi perkembangan anak. Anak yang lebih sering dibiarkan bermain sendiri atau terlalu banyak menggunakan gadget tanpa pendampingan bisa kehilangan kesempatan untuk berinteraksi dan belajar bahasa secara langsung.
Menurut para narasumber, deteksi perkembangan komunikasi sebenarnya dapat dilakukan sejak anak masih bayi. Menangis, melakukan kontak mata, bergumam, mengulang bunyi, hingga memberikan respons terhadap orang di sekitarnya merupakan bagian dari tahapan perkembangan komunikasi.
Ketika anak semakin besar, orang tua juga bisa memperhatikan kemampuan memahami dan menyampaikan sesuatu. Misalnya, anak mampu memahami perintah sederhana seperti mengambil barang, tetapi kesulitan menyebutkan atau menjelaskan sesuatu. Kondisi seperti ini perlu diperhatikan dan dapat menjadi alasan untuk melakukan skrining.
Khusus untuk anak yang mengalami kegagapan, pemeriksaan juga perlu disesuaikan dengan usia dan kondisi anak.
Dalam talkshow tersebut dijelaskan bahwa pada tahap tertentu, ketidaklancaran bicara masih bisa menjadi bagian dari perkembangan normal. Namun, jika kegagapan menetap atau muncul dalam bentuk pengulangan suku kata maupun kata, pemeriksaan oleh terapis wicara dapat menjadi langkah yang tepat.
Yang tidak kalah penting, orang tua tidak dianjurkan menekan anak agar segera berbicara dengan lancar. Memberikan komentar negatif, membandingkan dengan anak lain, atau terus meminta anak mengulang perkataan justru dapat menambah tekanan.
Ketua Yayasan Bina Wicara, drg. Sri Utami Sudarsono, M.Si, mengingatkan orang tua agar tidak menunda pemeriksaan jika menemukan sesuatu yang dirasa berbeda dalam perkembangan anak. Menurutnya, pemeriksaan bukan berarti anak akan menjadi semakin tidak mampu berbicara. Justru melalui skrining, penyebab masalah dapat diketahui sehingga penanganan bisa diberikan lebih tepat.
Deteksi dan penanganan sejak dini menjadi penting karena perkembangan anak terus berjalan. Dengan mengetahui kondisi anak lebih awal, orang tua bersama tenaga profesional dapat menentukan stimulasi maupun terapi yang sesuai.
Selain membahas perkembangan anak, Yayasan Bina Wicara juga memperkenalkan Politeknik Arutala Yohanna Hendarto yang memiliki tiga program studi, yakni D3 Terapi Wicara, D4 Terapi Bicara dan Bahasa, serta D3 Audiologi. Kampus yang berada di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, tersebut memiliki sejarah panjang dalam pendidikan terapi wicara dan audiologi di Indonesia.

