Apa sebenarnya yang kita cari dalam hidup? Uang, jabatan, rumah, kendaraan, atau pencapaian lainnya? Pertanyaan semacam itu menjadi bagian dari perenungan yang dituangkan Pak Arif Hidayat Thamrin melalui buku 60 Hikmah Kehidupan.
Buku ini lahir ketika Pak Arif memasuki usia 60 tahun. Bagi dirinya, usia tersebut menjadi momentum untuk melakukan refleksi terhadap perjalanan yang telah dilalui sekaligus memikirkan bekal kehidupan di masa mendatang.
Namun, 60 Hikmah Kehidupan bukan sekadar cerita perjalanan seseorang yang memasuki usia 60 tahun. Buku ini mengajak pembaca melihat kehidupan melalui sejumlah fase, mulai dari mengenal tujuan penciptaan manusia, memahami keimanan, menghadapi pekerjaan dan keluarga, mencari ketenangan, menghadapi ujian, hingga mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah dunia.
Pak Arif mengatakan, buku tersebut merupakan hasil rangkuman dari berbagai sumber dan bukan dimaksudkan sebagai karya untuk menggurui.
“Saya bukan ulama, saya tidak sekolah pesantren. Tetapi ini adalah renungan dan pencarian dan inspirasi untuk melihat perjalanan hidup secara pelita jiwa supaya hidup kita lebih bermakna,” jelasnya.
Salah satu hal menarik dari buku ini adalah cara Pak Arif melihat persoalan rezeki. Dalam kehidupan sehari-hari, rezeki sering kali hanya dikaitkan dengan penghasilan atau jumlah uang yang dimiliki. Padahal, menurutnya, rezeki memiliki makna yang jauh lebih luas.
Kesehatan, kebahagiaan, kesempatan berbuat baik, hingga hubungan yang baik dengan orang lain juga merupakan rezeki.
Karena itu, manusia tetap perlu berusaha mencari rezeki, tetapi tidak menjadikan rezeki sebagai sesuatu yang menguasai hidup. Hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam perjalanan mencari rezeki.
Pak Arif menggunakan gambaran sederhana tentang bayangan. Ketika seseorang mengejar bayangan, bayangan tersebut justru terus menjauh. Karena itu, manusia perlu mengubah arah dengan mendekat kepada sumbernya.
“Jadi kita dalam mencari rezeki mohon rida Allah, mohon kemudahan dari Allah karena dia yang memiliki rezeki,” ujarnya.
Pemaknaan tersebut kemudian berkaitan dengan konsep ikhtiar dan tawakal. Manusia tetap harus bekerja dan berusaha secara maksimal, tetapi hasil akhirnya tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia.
Hal lain yang menjadi perhatian dalam buku ini adalah persoalan ketenangan hati.
Memasuki usia tertentu, seseorang bisa saja merasa gelisah meskipun secara materi kehidupannya sudah cukup. Pencapaian yang semakin banyak belum tentu membuat hati semakin tenang.
Menurut Pak Arif, pencarian manusia pada akhirnya tidak hanya tentang mendapatkan lebih banyak, tetapi juga menemukan ketenangan, kebahagiaan, dan ketenteraman.
Karena itu, zikir menjadi salah satu pembahasan penting dalam 60 Hikmah Kehidupan. Zikir dipandang sebagai cara untuk menjaga hati agar tidak kosong sekaligus mendekatkan diri kepada Allah.
“Berzikirlah maka hatimu akan tentram,” katanya.
Dalam perjalanan kehidupan, manusia juga akan berhadapan dengan dua jenis ujian: kesulitan dan kebaikan. Kesulitan memang terasa berat, tetapi keberlimpahan juga dapat menjadi ujian tersendiri.
Ketika mendapatkan kesulitan, seseorang bisa lebih mudah mengingat Tuhan. Namun, ketika mendapatkan harta, kebahagiaan, dan keberhasilan, seseorang justru bisa terlena.
Karena itu, Pak Arif menekankan pentingnya syukur, sabar, dan tawakal. Syukur membuat seseorang mampu melihat nikmat yang dimiliki, sabar membantu menghadapi kesulitan, sedangkan tawakal mengajarkan manusia untuk menyerahkan hasil setelah melakukan ikhtiar.
Semakin bertambah usia, pembahasan mengenai kehidupan juga diarahkan kepada persoalan kematian dan bekal yang akan ditinggalkan. Pada usia 60 tahun, menurut Pak Arif, seseorang perlu semakin serius memperhatikan kebersihan hati, hubungan dengan sesama, dan amal yang dilakukan.
Mengingat kematian bukan berarti menjalani hidup dengan ketakutan. Justru, kesadaran tersebut dapat menjadi pengingat agar waktu yang dimiliki tidak digunakan untuk hal-hal yang sia-sia.
“Musuh terbaik adalah bagaimana waktu itu diisi dengan kebaikan,” ujar Pak Arif.
Ia juga mengingatkan bahwa ada hal-hal yang dapat terus memberikan manfaat setelah seseorang meninggal dunia, seperti sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang saleh.
Inilah yang kemudian menjadi salah satu pesan utama 60 Hikmah Kehidupan: kehidupan bukan hanya tentang berapa lama seseorang hidup, tetapi apa yang dilakukan selama waktu tersebut.
Buku ini juga dilengkapi bab terakhir yang berisi sejumlah zikir pilihan, seperti tahlil, selawat, dan istigfar. Dengan demikian, pembaca tidak hanya diajak memahami pesan spiritual, tetapi juga memiliki bagian yang dapat menjadi pegangan dalam keseharian.
Pada akhirnya, perjalanan hidup setiap orang memang berbeda. Tidak semua orang mengalami kedewasaan, kesulitan, pencarian, atau pencerahan pada usia yang sama. Karena itu, tujuh fase dalam buku ini tidak harus dipahami sebagai batasan umur yang kaku.
Pesan yang lebih penting adalah bagaimana setiap orang mampu mengambil hikmah dari fase kehidupannya sendiri.
“Waktu adalah pedang sehingga itu harus kita isi dengan kebaikan menjadi manusia yang bermanfaat,” kata Pak Arif.
Melalui 60 Hikmah Kehidupan, pembaca diajak berhenti sejenak untuk melihat kembali perjalanan masing-masing: apa yang sudah dilakukan, apa yang masih perlu diperbaiki, dan bekal apa yang sedang dipersiapkan untuk perjalanan berikutnya.

