Bekas lahan tambang selama ini identik dengan tanah tandus yang sulit dimanfaatkan kembali. Namun anggapan tersebut berhasil dipatahkan oleh Hartadi Putra, seorang pegiat pertanian asal Bangka Belitung yang sukses mengubah lahan bekas tambang timah menjadi kawasan produktif melalui budidaya sorgum.
Langkah ini tidak hanya menghadirkan harapan baru bagi lingkungan, tetapi juga membuka peluang besar bagi ketahanan pangan nasional. Sorgum dipilih karena memiliki kemampuan beradaptasi di lahan kritis dengan kebutuhan air yang relatif sedikit dibanding tanaman pangan lainnya.
Dalam wawancara di DFM Jakarta, Hartadi menjelaskan bahwa sorgum justru mampu tumbuh baik pada kondisi tanah yang selama ini dianggap tidak produktif.
"Dia tanaman yang di lahan kritis lebih hebat daripada jagung dan yang lain-lainnya. Dia bisa ditanam di lahan yang haranya sedikit." ujar Hartadi Putra.
Perjalanan pengembangan sorgum di Bangka Belitung dimulai sekitar tahun 2014-2015. Saat itu, Hartadi mencoba menanam sorgum di lahan bekas tambang seluas 10 hektare. Percobaan tersebut menjadi titik awal pembuktian bahwa lahan pascatambang masih memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan tepat.
Menurut Hartadi, proses budidaya sorgum juga jauh lebih sederhana dibanding tanaman pangan lain. Perawatan hanya perlu dilakukan secara intensif pada awal pertumbuhan, kemudian tanaman dapat berkembang dengan relatif mudah.
"Kalau sorgum ini pengalaman saya bagi petani yang malas. Paling mudah. Setelah umur sekitar satu bulan, tinggal dibersihkan seminggu sekali."
Keunggulan lain dari sorgum adalah kemampuannya memperbaiki kualitas lingkungan. Tanaman ini membantu mengurangi erosi, meningkatkan kandungan bahan organik tanah, hingga mempercepat proses reklamasi lahan bekas tambang.
Hartadi menyebut, pemanfaatan lahan kritis menjadi lahan pertanian memberikan manfaat ganda, yakni memulihkan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.
Selain membuka lapangan pekerjaan baru, budidaya sorgum juga mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap aktivitas pertambangan. Hasil tanaman dapat dimanfaatkan sebagai pangan, pakan ternak, hingga bahan baku industri pangan lokal.
Saat ini Hartadi masih terus mendorong perluasan lahan sorgum di Bangka Belitung. Ia berharap setiap kecamatan memiliki area tanam minimal 50 hektare agar produksi dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Di akhir wawancara, Hartadi menyampaikan pesan yang menjadi semangat perjuangannya selama bertahun-tahun mengembangkan sorgum.
"Jangan memandang lahan rusak sebagai akhir kehidupan kita. Di balik lahan kritis tersimpan peluang besar bagi mereka yang berani berinovasi."
Melalui inovasi tersebut, lahan yang sebelumnya dianggap tidak bernilai kini mampu menjadi sumber pangan baru sekaligus memberikan harapan bagi masa depan pertanian Indonesia.

