Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan sehat dan upaya mengurangi ketergantungan terhadap beras serta gandum impor, sorgum mulai kembali mendapat perhatian. Tanaman serealia ini dikenal memiliki kandungan gizi yang tinggi sekaligus mampu tumbuh di berbagai kondisi lahan, termasuk daerah yang kering.
Hartadi Putra, pengembang sorgum asal Bangka Belitung, menyebut bahwa sorgum sebenarnya bukan tanaman baru di Indonesia. Tanaman ini sudah lama dikenal masyarakat di beberapa daerah dengan nama yang berbeda-beda.
"Kalau di Bangka Belitung kami mengenalnya dengan bulgur. Setiap daerah memang berbeda-beda penyebutannya."
Menurut Hartadi, di berbagai negara seperti Afrika dan India, sorgum telah lama menjadi makanan pokok masyarakat. Kini, popularitasnya kembali meningkat karena termasuk kelompok pangan sehat.
"Sekarang sorgum ini adalah superfood di dunia."
Salah satu alasan sorgum banyak diminati adalah karena bebas gluten (gluten free). Kondisi tersebut membuatnya menjadi pilihan bagi masyarakat yang memiliki kebutuhan diet khusus maupun penderita intoleransi gluten.
Hartadi menjelaskan bahwa sorgum juga banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan tertentu.
"Khususnya untuk anak autis karena dia gluten free. Ada juga yang alergi susu sapi atau kedelai, bisa menggunakan susu sorgum."
Keunggulan sorgum tidak berhenti pada manfaat kesehatannya. Hampir seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk bernilai ekonomi.
Biji sorgum dapat diolah menjadi beras sorgum, tepung, susu nabati, sirup, gula, hingga minyak. Sementara batang dan daunnya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak maupun sumber energi biomassa.
"Sebetulnya dia tanaman yang multifungsi, pangan, pakan, dan energi."
Masa panen sorgum pun relatif singkat. Dalam waktu sekitar tiga hingga empat bulan, tanaman sudah dapat dipanen tergantung tujuan penggunaannya. Di Indonesia sendiri, harga sorgum memang masih lebih tinggi dibanding beras biasa. Hal ini disebabkan produksi yang masih terbatas sehingga pasokan belum mampu memenuhi permintaan pasar.
Meski demikian, Hartadi optimistis harga dapat menjadi lebih terjangkau apabila budidaya sorgum semakin berkembang di berbagai daerah. Ia juga berharap generasi muda mulai melihat sektor pertanian sebagai peluang besar, bukan pekerjaan yang ketinggalan zaman.
"Pertanian modern bukan bekerja untuk masa lalu, tetapi masa depan bangsa."
Dengan berbagai keunggulan yang dimiliki, mulai dari kandungan nutrisi, kemampuan tumbuh di lahan kritis, hingga potensi ekonomi yang luas, sorgum dinilai layak menjadi salah satu alternatif pangan strategis Indonesia di masa mendatang. Diversifikasi pangan melalui sorgum tidak hanya mendukung ketahanan pangan nasional, tetapi juga membantu memanfaatkan lahan-lahan yang selama ini belum produktif secara optimal.

