Lansia tidak hanya membutuhkan perhatian, tetapi juga kesempatan untuk tetap berkontribusi. Semangat itulah yang menjadi dasar lahirnya Gerakan Nasional Lansia Peduli (GNLP), sebuah organisasi yang mendorong para lanjut usia untuk tetap aktif, produktif, dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya.
Wakil Ketua GNLP, Drs. Dedi Hermawan, MPA, menjelaskan bahwa organisasi tersebut berdiri pada 11 November 2011 dan diresmikan di Istana Wakil Presiden. Menurutnya, pemilihan nama “Lansia Peduli” memiliki makna yang sangat penting.
“Awalnya ada usulan namanya Peduli Lansia, tetapi Prof. Haryono menyampaikan jangan Peduli Lansia. Kita harus menjadi Lansia Peduli, artinya lansia yang peduli kepada orang lain, bukan hanya menunggu untuk dipedulikan,” jelas Drs. Dedi Hermawan.
Selama lebih dari satu dekade, GNLP telah menggelar berbagai kegiatan di berbagai daerah Indonesia. Salah satu program yang menjadi ciri khas organisasi ini adalah jambore lansia yang melibatkan peserta dari berbagai provinsi. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga membuktikan bahwa lansia tetap mampu beraktivitas secara mandiri.
“Kami sudah melaksanakan kegiatan dari Sabang sampai Merauke. Ada yang ke Raja Ampat, Wonosobo, Merauke, hingga berbagai daerah lainnya. Yang paling sepuh dan masih aktif bersama kami bahkan ada yang berusia lebih dari 90 tahun,” ujarnya.
Selain jambore, GNLP juga aktif mendukung program Sekolah Lansia yang kini berkembang di sejumlah daerah. Program ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, kesehatan, dan kualitas hidup para lansia agar tetap mampu menjalani kehidupan secara mandiri dan produktif.
Menurut Drs. Dedi, semangat belajar tidak mengenal usia. Banyak peserta Sekolah Lansia yang mengikuti proses pembelajaran hingga akhirnya diwisuda layaknya mahasiswa pada umumnya.
“Sekarang sudah banyak sekolah lansia di berbagai daerah. Mereka belajar, mendapatkan pengetahuan baru, dan di akhir program bahkan mengikuti wisuda dengan memakai toga. Ini menjadi bukti bahwa lansia tetap bisa berkembang dan belajar sepanjang hayat,” katanya.
Meski demikian, GNLP juga melihat masih adanya tantangan dalam pengembangan program lansia di Indonesia. Salah satunya adalah perlunya penguatan kelembagaan dan dukungan kebijakan agar program-program pemberdayaan lansia dapat berjalan lebih optimal di tingkat daerah.
Karena itu, Drs. Dedi berharap pemerintah dapat memberikan perhatian yang lebih besar terhadap kelompok lansia, terutama dalam menciptakan ruang partisipasi yang memungkinkan mereka tetap aktif di masyarakat.
“Harapan kami semua lansia menjadi lansia yang peduli, tidak hanya tangguh tetapi juga bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Lansia harus tetap sehat, tetap aktif, dan tetap memiliki kesempatan untuk berkontribusi bagi bangsa,” tuturnya.
Melalui berbagai kegiatan yang terus dikembangkan, GNLP berupaya menunjukkan bahwa usia lanjut bukanlah akhir dari produktivitas. Sebaliknya, lansia dapat menjadi kekuatan sosial yang mampu mendukung pembangunan, mempererat hubungan antar generasi, dan menghadirkan inspirasi bagi masyarakat luas

