Jakarta – Di tengah tekanan hidup dan rutinitas yang padat, seni kerap menjadi ruang aman untuk menenangkan diri. Hal inilah yang dibagikan Dra. Muzlifah Muhiddin, pelukis dan pegiat seni, dalam Talkshow Inspirasi DAMANDIRI yang disiarkan Radio DFM 103.4 FM Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Dalam perbincangan bersama penyiar Fika, Muzlifah mengungkapkan bahwa melukis bukan sekadar aktivitas estetika, melainkan juga media terapi untuk menenangkan pikiran, mengekspresikan emosi, hingga membantu proses penyembuhan batin. “Melukis itu bukan soal bagus atau jelek. Yang penting kanvas atau media yang kita pakai penuh warna. Dari situ biasanya rasa lega itu muncul,” ujarnya.
Muzlifah bukan berasal dari latar belakang seni rupa. Ia merupakan lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, jurusan Ilmu Komunikasi. Karier awalnya pun jauh dari dunia melukis, mulai dari bekerja di majalah interior dan arsitektur hingga menjadi guru. Ketertarikannya pada seni lukis justru berawal saat ia dipercaya meliput berbagai pameran seni di Jakarta.
“Awalnya saya sering datang ke pameran karena tugas kerja. Hampir semua galeri saya datangi,” kenangnya. Dari situlah, Muzlifah mulai akrab dengan para seniman dan terlibat sebagai penyelenggara pameran. Namun, ia mengaku belum bisa melukis sama sekali saat itu.
Perjalanan Muzlifah sebagai pelukis dimulai sekitar tahun 2004, dalam situasi yang tidak direncanakan. Ia diminta ikut berpameran di Balai Rupa Tembi, Yogyakarta, meski belum memiliki kemampuan melukis. “Pegang kuas saja belum bisa. Akhirnya saya melukis pakai jari,” tuturnya.
Dari pengalaman tersebut, Muslifah menemukan gaya melukis yang hingga kini menjadi ciri khasnya, yakni teknik naif atau kekanak-kanakan. Teknik ini tidak menuntut ketepatan bentuk, komposisi, maupun harmoni warna. “Di lukisan naif, warna boleh tabrak-tabrakan. Tidak ada aturan. Semua bebas,” jelasnya.
Menurut Muzlifah, teknik naif justru memberi kebebasan penuh bagi pelukis untuk mengekspresikan diri tanpa takut salah. “Seni itu sesuatu yang indah, dan di seni tidak pernah ada yang salah,” tegasnya.
Pengalaman mendampingi anak-anak hingga orang dewasa membuat Muslifah semakin yakin bahwa melukis memiliki efek terapeutik. Ia mencontohkan anak dengan down syndrome yang terus menggambar pesawat sebagai bentuk ekspresi keinginan terpendam. “Lewat lukisan, emosi dan keinginan yang terpendam bisa keluar. Itu membuat mereka lebih lega,” ujarnya.
Tak hanya pada anak-anak, dampak positif melukis juga dirasakan orang dewasa. Muzlifah kerap mendampingi peserta yang datang dengan beban stres akibat pekerjaan atau masalah keluarga. “Saat melukis, mereka fokus ke kanvas, lupa waktu, lalu mulai bercerita. Dari situ stresnya perlahan berkurang,” katanya.
Ia menambahkan, warna dalam lukisan kerap mencerminkan kondisi batin seseorang. Muslifah bahkan pernah mengalami sendiri bagaimana warna gelap muncul tanpa disadari dalam karyanya, meski secara pikiran ia merasa baik-baik saja. “Ternyata itu tanda batin saya sedang tidak baik-baik saja,” ungkapnya.
Saat ini, Muzlifah aktif berkarya sebagai warga seniman Pasar Seni Ancol sejak 2010. Ia juga rutin memberikan edukasi seni kepada pengunjung serta mendampingi murid secara privat. Selain itu, Muslifah mengajar kegiatan ekstrakurikuler melukis di sejumlah sekolah dasar di Jakarta.
Menutup perbincangan, Muslifah mengajak masyarakat untuk tidak ragu mencoba melukis sebagai sarana ekspresi diri. “Gunakan saja apa yang ada di rumah. Kertas bekas, pensil, arang, apa pun. Jangan takut salah. Melukislah dengan jujur sesuai perasaan,” pesannya.
Talkshow Inspirasi DAMANDIRI ini dapat disimak kembali melalui siaran ulang dan kanal YouTube Radio DFM 103.4 FM, sebagai upaya menghadirkan inspirasi dan ruang refleksi bagi pendengar melalui kisah-kisah bermakna.

